RSS

Arsip Kategori: Sekitar Kita

NAILAH DAN KARYANYA

Karya Nailah dkk

Buku karya bersama Nailah dkk berupa cerita bergambar

Tidak terhitung berapa karya tulis yang telah dibuatnya dan berceceran di mana-mana. Di rumah kerjanya selain menonton adalah menulis dan menggambar. Cerita-cerita pun berhamburan dari pikiran sederhananya tak terbendung dan hinggap di lembaran-lembaran kertas ataupun buku-buku tulis yang tidak pernah dipikirkan untuk apa dan siapa ia menulis. Tulisan-tulisan itupun tidak tersimpan dengan baik hingga pada gilirannya menjadi tumpukan sampah yang siap dieksekusi ke tempat pembuangan. Meskipun kadang bertutur tentang harapannya agar suatu saat ia menghasilkan karyanya sendiri yang dibukukan, tetapi sebagai orang tua kami belum bisa berharap banyak apalagi memberinya harapan yang muluk-muluk bahwa karyanya pasti bisa diterbitkan.

Nailah Adhwa Atiqah, anak biasa-biasa saja yang tidak pernah menunjukkan prestasi hebat dan super di sekolah. Ia bahkan tidak pernah merasa perlu untuk meraih prestasi di sekolah sehingga tidak pernah terdengar keinginannya untuk menjadi juara. Selain hanya orang tuanya yang tidak ingin hasil belajarnya kurang memuaskan, kadang kami sedikit memberinya tekanan-tekanan agar lebih giat belajar karena belajar baginya hanyalah mengerjakan tugas/PR dari sekolah, selain itu bermain dan menonton walaupun tangannya tidak pernah diam menggambar dan menulis.

Masa SD nya sejak kelas I hingga kelas III ia jalani di Kota Makassar bersama ibunya dan terpisah dari ayahnya yang bekerja di Kota Bontang sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sewaktu sekolah di Makassar, hampir seluruh waktu bermainnya tersita jam sekolah. Berangkat di pagi hari sekitar jam 06.00 pagi dan tiba kembali di rumah kadang setelah Maghrib. Rasa letihnya pun menyita gairah belajarnya di malam hari sehingga waktu tidurnya lebih awal bahkan shalat isya pun kadang terlewatkan karena terlelap tidur. Satu-satunya hiburan yang menghias hari-harinya yang melelahkan kala itu adalah membaca buku dan yang menjadi favoritnya adalah buku seri Kecil-Kecil Punya Karya. Karena ayahnya tinggal di Bontang, maka untuk memenuhi hasrat membacanya, buku-buku tersebut kadang dibelikan secara online di www.bukukita.com dan langsung dialamatkan ke Makassar. Dari kebiasaan membacanya tersebutlah ia sering meniru gaya bertutur dalam cerita yang dibacanya dan dituangkan dalam tulisan-tulisan yang tidak beraturan dan tidak tertata.

Naik kelas IV SD, Nailah pun pindah sekolah ke Bontang dan tinggal hanya berdua bersama ayahnya sambil menunggu ibunya menyelesaikan studinya di Makassar. Kepindahannya ke Bontang tidak berjalan mulus. Beberapa sekolah menolaknya karena alasan sekolah penuh ataupun tidak mempunyai cukup kompetensi untuk diterima di sekolah yang cukup difavoritkan. Suatu hari air matanya bercucuran tak kuasa menahan sedih ketika menerima kenyataan tidak diterima di sekolah tempat ia dites untuk masuk sebagai murid pindahan. Kami sebagai orang tua pun tak kuasa menahan emosi dan tumpah dalam derai air mata menyatu dalam sedihnya. Beruntung ayahnya teringat suatu sekolah swasta yang termasuk tidak diunggulkan di Kota Bontang dan Nailah pun diterima meski dengan tes masuk yang tidak memadai. Nailah pun melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut dengan penuh harapan untuk mendapatkan bimbingan dan asuhan yang lebih baik. Namun harapan itu tidak berjalan indah karena Nailah kecil harus berhadapan dengan kondisi yang cukup berbeda. Ia pun mengalami stress sehingga sempat putus asa dan berkeinginan untuk kembali ke sekolahnya di Makassar. Sebagai orang tua tentunya kami tidak ingin melihatnya larut dalam putus asanya, sehingga kami pun berpikir untuk mencarikan aktivitas yang akan menghiburnya dan sekaligus menjadi kegemarannya.

Buku cerita karya bersama Nilah dan teman-teman dari SD IT Assyamil, SD Vidatra dan SDN 002

Nailah dan teman-teman saat peluncuran buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng”

Suatu hari kami melintas di depan rumah Bapak Ma’ruf Effendi yang sebelumnya kami ketahui bahwa istrinya, Muthi Masfu’ah adalah seorang pegiat literasi di Bontang dan pernah menjadi ketua Forum Lingkar Pena (FLP) willayah Kalimantan Timur. Saat itu di pagar rumahnya terpasang spanduk Rumah Kreatif Salsabila yang menjadi tempat bimbingan belajar termasuk di dalamnya Sanggar Jurnalistik Cilik yang membina anak-anak menuangkan ide-idenya dalam karya gambar dan tulisan. Kami berpikir, inilah tempat yang paling tepat untuk Nailah memaksimalkan kegemarannya. Nailah begitu bersemangat ketika kami menceritakan tentang siapa Ibu Muthi Masfu’ah dan sangat ingin meniru jejaknya sebagai penulis. Tidak berlangsung lama, selang beberapa bulan Nailah mengikuti bimbingan jurnalistik di Rumah Kreatif Salsabila, Ibu Muthi Masfu’ah pun menyampaiakan bahwa tulisan Nailah bersama teman-temannya akan diterbitkan dan akan segera diluncurkan pada hari Ahad, 23 Desember 2012 di Hotel Tiara Surya Bontang. Nailah pun sangat senang dan bersemangat mengikuti latihan beberapa hari untuk persiapan tampil membacakan ceritanya dalam acara peluncuran bukunya tersebut. Buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng” pun hadir mengisi khazanah buku cerita bergambar khas anak-anak sebagai karya anak-anak Bontang yang terangkai dalam kegiatan Bontang Menulis dan Gebyar 5 Karya Buku. Semoga semangat ananda Nailah hari ini terus mengalir menuju muara karya yang terus menggelorakan lautan ide dan pemikiran.

Selamat untukmu, Nak! Teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2012 in Alam Pendidikan

 

PELUIT PAK POLISI


Dalam perjalanan ke kantor pagi ini, tidak banyak saya perhatikan sepenjang jalan. Namun saya sempat memerhatikan beberapa orang polisi di beberapa ruas jalan. Seperti biasanya di pagi hari, bapak atau ibu polisi mengawasi dan mengatur lalu lintas. Meski Bontang kota kecil, tetapi lalu lintas di pagi hari cukup ramai baik oleh orang-orang yang berangkat bekerja maupun anak-anak yang berangkat ke sekolah. Sudah menjadi kelaziman polisi pengatur lalu lintas selalu melengkapi diri dengan aksesoris berupa sebuah peluit. Saya tidak sempat melihat peluit yang dibunyikan pagi ini, tapi saya sempat mendengar sekali bunyi sempritannya.

Berpikir tentang peluit polisi, saya pun mereka-reka dalam pikiran  andaikan peluit itu tidak harus diletakkan di bibir dan ditiup. Ada beberapa ide berkecamuk di pikiran saya, salah satunya adalah penggunaan teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia. Sepanjang perjalanan saya merenung; betapa kolotnya polisi ini dari dulu hingga sekarang masih menggunakan peluit tiup. Memang saya belum pernah melihat peluit yang tidak menggunakan tiupan dari mulut, tetapi mengamati perkembangan teknologi saat ini, sangat meungkin menggunakan peluit tanpa harus menghembus di lubang peluit atau selalu memarkir sebuah peluit di bibir yang tidak terjamin kebersihannya. Karena penasaran dengan peluit, saya mencoba mencari beberapa ulasan terkait dengan peluit ini. Ternyata ide saya bukan yang baru karena di kompasiana saya menemukan tulisan Kusmayanto Kadiman tentang ide penggunaan peluit elektronik. Di sana penulis menawarkan sebuah konsep peluit agar tepat sasaran dikombinasikan dengan pancaran sinar untuk mengantisipasi tidak terdengarnya suara peluit akibat kebisingan atau dari dalam kendaraan yang kedap suara. Tentu ini menjadi tantangan besar karena sangat sulit mengubah tradisi yang sudah mengakar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 September 2012 in Sekitar Kita

 

MUSLIMAH YANG MODIS NAN SEKSI (sisi pandang lain)

Pada dua tulisan sebelumnya, saya terusik (tapi asik) dengan fenomena busana seksi ala muslimah gaul. Di sini saya terobsesi lagi dengan fenomena yang tidak kalah asik. Saya telah banyak menyaksikan busana muslimah yang serba tertutup, bukan sekedar membungkus seperti sering diulas oleh teman-teman di dalam forum-forum Basic Training HMI. Karena saya sempat bergabung dalam komunitas HMI ini, jadi teman-teman dari kalangan akhwat umumnya memakai busana yang serba tertutup bahkan kadang ditambah dengan cadar. Bukan maksud saya berteori tentang aurat dan hijab, tetapi saya ingin mengalihkan sudut pandang kita tentang busana muslimah ini yang sering diidentikkan dengan kelompok ekstrim.

Meski tanpa hak, saya ingin menggeser makna modis dan seksi dalam suatu persepsi lain melihat cara muslimah berbusana. Otak kita sering membuat batasan untuk menjelaskan makna suatu hal, tetapi ketika batasan itu ditranslasi pada posisi lain, maka tampak sisi yang berbeda. Memang tidak mudah untuk mengubah persepsi karena kita lebih mudah terbawa pada trend daripada penalaran. Kata modis dihubungkan dengan kebaruan. Artinya sesuatu dianggap modis jika mengikuti perkembangan terbaru. Dalam pengertian ini, otak modis adalah otak yang trendy mengikuti perkembangan terbaru. Ini hanya istilah asal-asalan yang saya buat sebagai pembanding dengan maksud melabilkan pembatasan kita pada makna suatu istilah untuk tidak berbetah pada satu pemahaman.

Jilbab lebar berkibar, gaun panjang menjuntai akan menjadi sangat modis dalam pemahaman yang sederhana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2012 in Sekitar Kita

 

HATI-HATI MEMUTUS PERTEMANAN DI DUNIA MAYA

Ada dua hal yang saling beriringan dan terkadang saling mendahului. Dunia semakin sempit kata orang, di sisi lain kita menemui dunia yang teramat luas. Kekuatan teknologi menguasai dunia, mempersempitnya dan menjadikannya bagai boneka di tangan yang begitu mudah dimainkan. Kekuatan teknologi pula telah mengekspansi dunia yang sebelumnya tak terbayangkan oleh pikiran klasik kita. Ajaran suci memperkanalkan kita pada alam syahadah dan alam ghaib. Ghaib hakiki tidak menjadi persoalan dalam ranah logika kita karena ini domainnya iman. Ghaib nisbi adalah wilayah diskursif yang semakin hari semakin jelas dan menjadi bagian realita yang dapat dinalar. Perkenalan cyberspace atau dunia maya oleh   William Gibson yang awalnya diperkenalkan sebagai halusinasi adanya alam lain yang mempertemukan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) yang sekan-akan terdapat ruang dalam medium cyber. Penjelajahan ruang ini telah membawa ummat manusia pada suatu lingkungan dan pergaulan yang sungguh-sungguh berbeda tetapi menjadi kenyataan yang semakin sulit dihindari. Hampir setiap orang sudah terjebak –atau menjebakkan diri– ke dalam lorong-lorongnya yang semakin dalam dan penuh warna-warni. Image

Ketika ruang ini menjadi ajang pertemuan dan pergaulan di sisi yang lain dunia nyata kita, terbentuk pulalah kondisi psikologis yang sedikit agak berbeda. Jika dalam keseharian pergaulan kita saling menyapa dan menatap dengan pandangan mata, di sini kita saling menyapa dengan medium maya sebagai perantara yang mau tidak mau penyampaian pesan atau maksud tidak terwakili lebih sempurna. Kita tahu bahwa tidak semua maksud dapat terwakili oleh kata-kata; ekspresi wajah, artikulasi, intonasi dan gestikulasi sangat menentukan tersampaikannya maksud suatu pesan. Di dunia maya, di samping tulisan pada umumnya kita gunakan, kadang digunakan pula simbol-simbol atau tanda-tanda khusus yang tidak resmi untuk mewakilkan ekspresi. Tetapi simbol dan tanda tetaplah terbatas, dan justru dapat berakibat fatal jika penggunaannya tidak difahami secara umum atau penerimaan makna yang berbeda dari setiap orang. Ketika salah penerimaan makna ini terjadi, konfirmasi pun sulit dilakukan. Di sinilah kerumitan psikologi dunia maya karena pembacaan emosi sangat sulit dilakukan. Kata-kata yang terpampang di hadapan kita tidak menjamin perwakilan emosi dari pemiliknya di ruang maya.

Di sini saya tidak ingin membahas dampak buruk pergaulan di dunia maya sebagaimana banyak dibahas dan marak diperbincangkan. Saya justru ingin melihat hubungan baik yang terjalin melalui dunia maya yang dikenal sebagai jejaring sosial agar tetap segar dan menguatkan silaturrahim. Ketika kita memutuskan bergabung dalam suatu situs jejaring sosial, tentunya kita punya niat baik untuk memperluas dan memperkuat relasi. Namun pada suatu kesempatan kita merasa hubungan kita di dunia maya ini kurang sehat pada seorang relasi atau teman sehingga timbul niat ‘kurang’ baik kita untuk membatasi bahkan memutuskan hubungan. Misalnya di Facebook kita kenal fitur-fitur seperti unfriend, unsubscribe, report/block yang fungsinya membuat batas atau pemutusan hubungan. Untuk pembatasan diperlukan untuk menjaga hubungan dalam hal-hal atau keadaan tertentu, tetapi pemutusan hubungan pertemanan berarti mengakhiri suatu kebaikan yang kita anggap sudah tak perlu diteruskan. Seseorang yang memutus pertalian di dunia maya tentu punya alasan seperti halnya pula dalam keseharian dunia nyata kita berlaku hal yang sama. Tetapi kita juga semua paham bahwa memutus silaturrahim sama saja dengan memutus jalan ke surga sebagaimana dipesankan oleh manusia mulia Muhammad SAW untuk selalu menjaga silaturrahim. Jika kita beranggapan bahwa jejaring sosial di dunia maya hanyalah permainan, dan memutus hubungan di dalamnya juga bagian dari permainan, mungkin kita harus lebih dalam mengkaji psikologi dunia maya yang telah menjadi realita kehidupan. Realitas dunia maya tidak dapat lagi dianggap sebagai sekedar permainan atau hiburan pengisi waktu senggang, sehingga hubungan yang terjalin di dalamnya juga harus tetap terjaga dan tidak menjauhkan kita dari realitas surgawi yang dijanjikan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2012 in Sekitar Kita

 

KAPAN LAGI AKU BISA MENULIS

Saya kurang mengerti juga makna pertanyaan tersebut dalam judul di atas. Jika tidak salah dalam bahasa ada yang disebut dengan pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Apakah judul tersebut termasuk dalam kategori ini, yang jelas tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Pertanyaan senada dalam keseharian kita terasa sudah lumrah dan tidak perlu diperdebatkan bagaimana menanggapinya, kecuali bagi orang-orang yang resek. 

Aktivitas menulis sudah kita jalani sejak awal kita mengenal sekolah. Jika kita punya catatan tentang jumlah huruf, kata atau kalimat yang pernah kita tulis, mungkin kita tidak menyangka bahwa mungkin sudah berpuluh-puluh kilometer kita menarik pena dan menggoreskan tinta serta jutaan kata dan kalimat pernah kita tulis. Dan jika kita cukup akrab dengan tuts mesin ketik atau keyboard komputer, entah sudah berapa ribu atau juta kali kita memencet huruf A atau yang lainnya. Tetapi menekuni sebuah aktivitas secara serius menulis dan mendokumentasikannya menggunakan media atau alat tertentu mungkin hanya orang-orang tertentu yang sempat melakukannya.

Saya termasuk orang yang tidak fokus dalam menulis, karena ide itu hanya kadang-kadang muncul dan tidak punya cukup wawasan keilmuan dan teknik penulisan yang baik. Kehadiran blog ini awalnya hanyalah dari kebiasaan menjelajah dunia maya sehingga terjebak dalam registrasi akun di wordpress.com. Sebelumnya juga pernah membuat akun di blogger.com dan mencoba bercerita tak bermutu di sana. Anehnya lagi, saya ngeblog di sana tanpa sengaja karena mengutak-atik foto dari ponsel yang dapat langsung diupload ke blog. Bingung entah terkirim ke mana setelah foto tersebut terupload, tiba-tiba ada pesan masuk yang mengirimkan link yang harus dibuka untuk mengaktivasi blog dan jadilah blog itu seperti sekarang.

Saya cukup terkagum-kagum dengan tulisan orang yang sarat dengan kajian ilmu yang dalam dan wawasan yang luas. Saya sering berpikir, jika menulis harus menghasilkan yang seperti itu, mungkin selamanya saya hanya jadi penonton di antara penulis yang hebat-hebat. Saat ini pun saya masih tetap setia menjadi penonton meskipun punya keinginan besar tetapi tak jua mampu mewujudkannya. Untuk mengisi masa-masa jadi penonton (mungkin juga selamanya), sesekali saya mengisi blog ini dengan kata-kata yang masih saya ingat dan tahu artinya dan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat seperti dulu ketika masih sekolah diminta oleh bapak/ibu guru menyusun kalimat. Saya masih ingat ketika dulu masih di SD pada pelajaran Bahasa Indonesia, ada dua jenis buku yang digunakan. Satu buku bacaan yang khusus untuk melatih membaca dan menelaah bacaan, yang satunya lagi adalah buku pelajaran untuk latihan menyusun kata menjadi kalimat. Biasanya perintah membuat kalimat diinstruksikan dengan membuatnya seperti contoh yang telah diberikan. Mungkin pola-pola seperti itulah yang masih saya anut hingga sekarang. Saya suka meniru-niru gaya tulisan orang lain karena tidak punya gaya khas sendiri.

Bagi saya, menulis di blog ini kadang menggunakan waktu yang tidak tepat. Pada saat kesibukan yang seharusnya saya kerjakan lagi menumpuk, saya kadang malah mengutak-atik blog ini meskipun hanya mengubah tampilannya atau mengedit tulisan yang sudah terposting di dalamnya. Saya lebih sering mengabaikan seberapa besar manfaat tulisan saya dan menulis suka-suka tanpa arah dan tujuan pasti. Posting  dalam blog ini belum seberapa, dan saya bersuaha mempertahankan keaslian tulisan tanpa copy-paste. Jika pada kesempatan tertentu saya mengutip tulisan orang lain, saya tetap berusaha mencantumkan sumber atau linknya. Karena saya bukan seorang penulis, maka saya tidak perlu merasa terbebani dengan kelas-kelas atau  level seorang penulis. Saya tidak masuk dalam kelas mana pun, tidak terendah apalagi tertinggi. Senang juga sih melihat penulis-penulis berkelas seperti mereka yang sudah mahir, tapi sekali lagi saya tidak akan pernah menulis di blog ini jika menanti giliran seperti mereka. Saya kadang berkecil hati ketika membaca tulisan orang yang dikritik habis-habisan padahal menurut saya tulisan itu sangat luar biasa. Tapi saya tidak khawatir tulisan dalam blog ini akan dikritik, karena tidak ada yang pantas dikritik. Tulisan yang pantas dikritik hanyalah yang mempunyai pengaruh dalam khazanah pemikiran dan memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial. Untuk tulisan kacangan seperti ini tidak akan mengkhawatirkan membawa pengaruh cara berpikir apalagi daya penggerak sosial.

Saya juga bukan termasuk orang yang menikmati saat-saat menulis. Terkadang menulis menjadi siksaan berat bagi saya jika berusaha menfokuskan pada satu titik pembahasan untuk mengerucutkan pandangan pada suatu simpulan yang bermakna. Karena itulah tulisan-tulisan dalam blog ini hanyalah berlagu seperti catatan harian dari jejak selintas pikir dan rasa yang tak berarah. Tetapi saya berusaha tetap menulis, karena apa lagi dan kapan lagi saya bisa menulis jika tidak MENGGUNAKAN SAAT YANG TIDAK TEPAT.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Alam Pendidikan, Kontemplasi

 

MENYONTEKLAH SEBAGAIMANA GURU DULU MENYONTEK…!

Image

Saya singgung sedikit tentang kata ‘contek’ atau ‘sontek’. Saya coba-coba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata kata contek tidak ada penjelasannya dan dirujuk ke kata sontek yang salah satu artinya adalah mengutip sebagaimana aslinya. Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut tentang makna sontek itu. Yang pasti kata yang baku berdasarkan KBBI adalah sontek dan bukan contek yang lebih sering kita dengar atau baca dalam berita-berita atau pembicaraan resmi. Untuk penulisan selanjutnya akan disesuaikan dan akan berusaha mempertahankan bentuk bakunya.

Dua tahun terakhir sepertinya berita tentang menyontek tengah hangat-hangatnya ketika kabar tentang Contek Massal di SD Gadel II Surabaya tahun 2011 lalu terangkat dalam headline pemberitaan media. Saya merasa tergelitik ketika bermunculan komentar-komentar yang menyatakan rasa simpati dan dukungannya kepada Ibu Siami yang dianggap berani melawan arus ketidakjujuran di dunia pendidikan. Memang nurani kita belum seutuhnya mati karena betapapun pengalaman kita terdahulu tidak jauh berbeda dengan realita saat ini, tetapi kita masih angkat jempol dengan kejujuran seseorang dan keberaniannya.

Saya berusaha menepiskan rasa pesimis ketika berharap kebiasaan menyontek itu hendak dikubur dalam sejarah masa lalu pendidikan kita. Guru yang menjadi tumpuan harapan kita untuk menanamkan kejujuran kepada anak didiknya mungkin terbelit perasaan bersalah ketika punya pengalaman tidak jujur yang sama di masa lalu. Sehingga kita akan menyaksikan ada guru atau juga dosen yang acuh tak acuh dengan kebiasaan menyontek siswa atau mahasiswanya. Menegur sekedarnya saja sebagai tugas pengawas dalam ujian, tetapi tidak sungguh-sungguh melarang. Yang sungguh disayangkan ketika guru memberikan penialain pada hasil pekerjaan anak didiknya tidak akan mau tahu dengan cara bagaimana sang murid mengerjakannya. Apakah dikerjakan dengan cara yang jujur atau tidak. Memang tidak ada alat ukur yang baku untuk memastikan hasil ujian siswa dikerjakan secara fair atau tidak, sehingga pekerjaan ‘menghukum’ siswa dengan nilai yang buruk bukanlah tindakan bijak atas ‘dugaan’ kecurangan. Karena justru dengan cara seperti inilah, guru bahkan dapat bertindak tidak adil ketika tidak ada informasi lengkap dan akurat yang memastikan semua tindak-tanduk siswa selama mengerjakan soal ujian.

Tindakan pembiaran guru atas ketidakjujuran siswa cukup dapat dimaklumi mengingat pengalaman yang sama (bisa jadi) masih menjadi bayang-bayang sikap guru terhadap anak didiknya. Di sinilah dilemanya. Tapi seorang pendidik bukanlah milik masa lalunya, tetapi bagi masa depan pendidikan dan anak didiknya. Ketika seseorang telah memilih hidup sebagai pendidik di jalur formal, maka ia harus lahir sebagai manusia baru yang berkomitmen pada kebaikan dan perbaikan masyarakat. Dunia pendidikan bukanlah tempat berspekulasi yang menggantungkan keberhasilan pada nasib tanpa kesungguhan untuk berjuang. Pendidiklah yang terdahulu harus menunjukkan suksesnya sebelum berharap lebih kepada anak didik yang dibimbingnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2012 in Alam Pendidikan

 

MUSLIMAH YANG MODIS NAN SEKSI (bagian 2)

ImageGiliran bicara modis dan seksi, tampaknya terlalu terburu-buru jika harus mengakhiri pada tulisan sebelumnya. Memang benar sih, kata akhi Muhajirin kalau tulisan itu tidak tuntas. Dan kehidiran tulisan ini pun tidak akan juga dapat menuntaskannya. Di sini pun saya tidak akan membahasnya dari sudut pandang syariah yang bukan keahlian saya. Emang bidang keahlian saya apa sih? hehe…. Mua dibilang usilitas (ga tau ini bahasa apa, maksudnya ke-usil-an gitu), ya terserah deh. Yang penting saya menulis dengan senang dan plong menumpahkan muatan otak saya yang terlalu kerdil untuk menampung ide-idenya sendiri.

Pilihan berbusana muslimah memang sungguh hebat. Saya, andaikan seorang wanita belum tentu mau berbusana muslimah. Mana ribet, butuh banyak kain dan yang pastinya mahal lagi. Tapi jangan salah, lingerie yang hanya menutup bagian tertentu dari tubuh bisa lebih mahal dari busana muslimah lengkap bahkan dengan cadar dan jilbab lebar menjuntai sekalipun. Saya cukup yakin bahwa seorang wanita muslim yang tergerak berbusana muslimah memiliki pertimbangan dan alasan. Jika sebelumnya menggunakan pakaian terbuka kemudian beralih ke pakaian muslimah, pasti telah melewati konflik bathin sebelum menjatuhkan pilihannya. Tidak jarang kita dengar seorang wanita mengatakan belum siap menggunakan busana muslimah. Macam-macamlah alasannya, dan salah satunya yang pernah terlintas di sekitar kuping saya ada yang mengatakan “yang penting hati kita bersih, masalah pakaian hanya di luarnya saja dan tidak menjamin hati bersih”. Bukan kapasitas saya untuk menghakimi pendapat seperti ini, tapi saya tetap meragukan kebersihan hati yang dimaksud ketika menolak kebaikan. Saya juga setuju bahwa pakaian tidak menjamin kepribadian seperti ketidaksetujuan saya pada sosok manusia yang menjadi jaminan lebih mulia dari binatang.

Jika pilihan berbusana ‘muslimah seksi’ atas dasar keyakinan, mungkin saya harus menelusuri kembali dasar-dasar keyakinan saya. Bisa jadi saya keliru memahami dengan pikiran kerdil saya sehingga melihatnya sebagai yang patut di-usili. Maaf beribu maaf nih saudariku muslimah yang seksi lahir-batin. Bukan hendak melecehkan. Saya tidak cukup lancang memprotes pakaian dan merendahkan martabat ukhti hanya karena kejahiliyahan pikiran saya. Saya hanya ingin berbagi kegelisahan sebagai muslim laki-laki ketika memandang muslimah berbusana seksi. Entahlah apakah itu sungguh kegelisahan atau justru turut menikamati. Sebelumnya saya juga sudah mengatakan bahwa tidak akan menyarankan membuka busana seksi itu dan menggantinya dengan yang lebih terbuka.

Untuk tidak terjerumus dalam perbincangan yang memancing sewotisasi (ke-sewot-an, maksudnya), saya mencoba memandang busana muslimah yang modis plus seksi sebagai kategori unik. Yaahh, unik….! Betapa tidak, untuk menampilkan keseksian masih berusaha menggunakan kain berlebih. Padahal akan lebih praktis jika menggunakan pakaian minim agar aura seksinya (bukan Aura Kasih) lebih nampak. Tapi ini pilihan, jadi saya tidak ingin sembarangan menerka alasannya. Tapi tulisan ini memang hanya tulisan usil, jadi saya bebas dong mereka-reka arah tulisan saya tanpa terikat dengan dengan alasan di balik busana seksi -yang berlabel muslimah- sesungguhnya. Tapi memang betul-betul unik, dan inilah mungkin nilai lebihnya. Karena dari sudut pandang mata berbeda, busana muslimah yang seksi boleh jadi tampak lebih seksi daripada busana minim yang lebih dari setengah telanjang. Dan jika maksudnya menampilkan bodi seksi di balik busana muslimah ini, mungkin saya hanya ingin menitip pesan kepada para desainer untuk tidak lagi memberikan kategori ‘busana muslimah’ yang seperti ini. Peganglah kebebasan berekspresi Anda, dan tidak perlu mengaitkan karyanya dengan keyakinan tertentu. Untuk yang satu ini, saya menyampaikan rasa ketersinggungan saya yang sudah menetap pada keyakinan yang Anda catut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2012 in Sekitar Kita

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 412 pengikut lainnya.