RSS

Hari Ibuku

Parents

Ayah dan Ibu

Hey! Kau tahu ibuku? Aku beritahu ya. Meski kau tak berkenan atau tidak tertarik mendengarnya. Hari ini adalah harinya. Hari perjuangannya yang hanya dirasakan sendiri olehnya pedih dan perihnya. Kala itu, beliau merasakan sakit yang luar biasa tapi rasa sakitnya terabaikan olehnya sendiri karena harapannya jauuuh lebih daripada itu. Kebahagiaan yang tiada tara setelah menanti sekitar sembilan bulan terwujud di hari itu. Lelehan air mata rasa sakit menyatu dalam derasnya air mata bahagia. Sebagai aku anaknya yang lahir di hari itu pasti tak tahu apa-apa, apalagi merasakan sakit yang dirasakannya.

Hari-hari berikutnya bukanlah masa yang mudah baginya. Disamping tubuh yang masih lemah, iapun harus berbagi rasa dengan anak yang baru dilahirkannya. Ia harus memahami setiap bahasa tangis dan tawa dengan tangggapan yang tepat berdasar naluri seorang ibu. Malam-malamnya jauh dari pulasnya tidur dan indahnya mimpi. Karena mimpi baginya tidak lebih indah dari kenyataan yang sudah dirasakannya. Hari berganti pekan, berganti bulan, tahun dan perjalanan seterusnya penuh dengan harapan yang tak pernah putus. Doa-doa malamnya yang diperpanjang pun penuh linangan air mata. Linangan air mata harapan yang ia tumpahkan di hadapan Sang Pemberi Hidup agar kelak buah hatinya meraih keberkahan dan kebahagiaan hidup.

Inilah harinya. Hari ibuku ketika darahnya tumpah ke bumi karena hadirnya penghuni baru di atas hamparannya. Jika engkau tanya tentang pergantian tahun-tahun kelahiranku sejak itu, kuberitahu bahwa hari ulang tahun tidak pernah diperkenalkan padaku. Sehingga pergantian tahun itu hanya aku kenang sebagai hari tumpahnya darah ke bumi, hari perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang kini semakin merenta. Kini harinya semakin senja, tapi doa-doanya terus bergemuruh menembus langit. Bahkan kini, ketika aku jauh dari pandangan matanya, ia terus memantau dan mengiring setiap langkahku dengan doa dan pengharapan. Saat ini ia terus menanti. Menanti kami kembali ke hadapannya, ke pelukan dan belainnya bagai kami bayi dulu.

Ibu! Semoga engkau bahagia selalu. Selamat buatmu, Ibu! Atas kepahlawananmu mengurus dan membesarkan anak-anakmu. Maafkan kami tidak bisa memenuhi semua harapanmu. Maafkan kami selalu membuatmu menanggung rindu karena jarak berjauhan. Bersama ayah yang kini merenta bersamamu, kupanjatkan permohonan ampunan atas segala dosa, kiranya Allah menyayangi lebih dari kasih sayang yang kalian curahkan kepada kami sepanjang hayat. Insya Allah, kita akan berjumpa di Ramadhan tahun ini.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2018 in Uncategorized

 

Mengenang Satu Hari Ketika Darah Tumpah ke Bumi

Di ruang Perpustakaan Daerah Kota Bontang

Di ruang Perpustakaan Daerah Kota Bontang

Tulisan ini kesannya sedikit agak dipaksakan karena mengkhususkan penulisannya pada satu waktu tertentu. Waktu yang (mungkin) bagi sebagian besar orang adalah suatu masa terpenting dalam hidupnya. Dengan sedikit mengikuti trend, aku pun sudah terjebak pada pengistimewaan hari itu yang tepatnya akan berulang tanggal dan bulannya sekitar satu jam yang akan datang. Tulisan ini kemungkinan akan selesai setelah masuk waktunya tanggal 29 April 2014 sesaat lagi. Sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya dengan mengambil momen yang sama, pernah kusebutkan bahwa sejak kecil aku tidak pernah diperkenalkan dengan istilah ulang tahun, apalagi merayakannya. Aku hanya tahu tanggal kelahirannku ketika itu tanpa berpikir tentangnya selain hanya salah satu identitas diri. Hingga aku menyaksikan betapa hampir setiap orang begitu menghistimewakan hari kelahirannya dengan perayaan khusus, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama. Aku hanya ingin agar tidak melupakan asal mula kejadianku sebagai manusia yang pernah lahir dari rahim seorang ibu yang bagiku adalah pahlawan hidupku yang paling istimewa. Kutuluskan doa baginya semoga darahnya yang tumpah ke bumi menyertai kelahiranku bernilai sebagaimana tumpahnya darah syuhada. Bersamanya aku memiliki seorang ayah yang teguh, teduh dan penyayang. Membayang wajah keduanya selalu membuat mataku berkaca-kaca. Mungkin hati ini sudah mengeras karena pekatnya dosa-dosa yang menutupi sehingga kini aku tak bisa lagi menikmati syahdunya linangan air mata, padahal sungguh aku ingin merasakan kehadiran mereka begitu dekat menyapaku dan menyambuatnya manja bagai kanak-kanak yang tak akan menyembunyikan keceriaannya.

Telah panjang masa yang aku lalui dalam hidup yang konon sangat singkat ini. Tetapi tidak ada hal istimewa dan penting yang membuatku merasa berarti dalam hidupku, keluargaku, lingkunganku apalagi yang lebih dari itu. Gejolak emosiku masih terlalu disibukkan oleh ratapan pada kekurangan diriku yang tak mampu aku benahi. Aku bahkan kadang berpikir, “Mungkinkah Tuhan telah salah menciptakan aku karena aku merasa tertolak oleh kehidupan ini.” Aku masih sering merasa bahwa keadaan sekelilingku tidak akan dapat menerimaku, tetapi hanya bertahan untuk tidak terang-terangan mengusirku. Aku ingin bercerita, tetapi hanya bisa berkata kepada diri sendiri. Aku merasa tidak akan ada yang mampu memahamiku sebagaimana aku merasai diriku sendiri. Aku benci bertanya tentang diriku karena selalu curiga bahwa jawaban yang akan aku peroleh hanya akan membenamkan rasa sakit semakin dalam. Di suatu kesempatan, pujian aku dapatkan dari sedikit kemampuan yang aku bisa, tetapi hanya sesaat menyemangatiku untuk merasa sedikit berarti karena setelahnya aku kembali menatap hampa hidup ini tanpa arah yang harus kutuju. Aku kadang begitu bersemangat menceritakan ‘kehebatan-kehebatan’ yang dapat aku capai, tetapi di dasar hati aku merasa semakin memperhinakan diri sendiri di bawah lapisan-lapisan kepalsuan. Curahan kata-kata ini menunjukkan betapa cengengnya aku, tetapi aku hendak memastikan bahwa ini hanya akan terjadi di sini. Aku hanya ingin membebaskan diriku berkata-kata di sini tanpa terpenjara oleh kaidah-kaidah dan kepetutan-kepatutan etika sampai batas tidak menyerang diri dan kepribadian orang lain. Sampai saat ini, hanya tulisanlah menjadi alam kemerdekaanku tanpa harus malu bahkan dengan mempermalukan diri sindiri membeber aib dan kelemahan diri.

Di tengah ketakseimbangan hidup yang kujalani, aku pun memaksa diri untuk tidak mempedulikan rasa nyaman atau tidak nyaman dengan berbagai fluktuasi emosi yang mengoyak-ngoyak keyakinanku. Aku berupaya untuk tidak melepaskan diri dari rasa keterikatan pada dasar-dasar keyakinan walaupun kian hari semaikn longgar. Di waktu-waktu yang ditentukan, aku masih tegar melangkahkan kaki menuju Tuhanku meritualkan titah, berserah tiada daya. Aku belum bisa menantang-Nya sebagaimana kegilaan Fir’aun yang lebih percaya diri. Jika Tuhan telah menitipkan amanah yang sedikit unik bagiku di kehidupan ini, dengan tidak mengistimewakan hari ini, saat ini aku berharap dapat bertemu dengan nuraniku yang sungguh-sungguh mempercayakan raga dan jiwa ini sebagai mahligai kejayaannya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2014 in Kontemplasi

 

Tag:

NAILAH DAN KARYANYA

Karya Nailah dkk

Buku karya bersama Nailah dkk berupa cerita bergambar

Tidak terhitung berapa karya tulis yang telah dibuatnya dan berceceran di mana-mana. Di rumah kerjanya selain menonton adalah menulis dan menggambar. Cerita-cerita pun berhamburan dari pikiran sederhananya tak terbendung dan hinggap di lembaran-lembaran kertas ataupun buku-buku tulis yang tidak pernah dipikirkan untuk apa dan siapa ia menulis. Tulisan-tulisan itupun tidak tersimpan dengan baik hingga pada gilirannya menjadi tumpukan sampah yang siap dieksekusi ke tempat pembuangan. Meskipun kadang bertutur tentang harapannya agar suatu saat ia menghasilkan karyanya sendiri yang dibukukan, tetapi sebagai orang tua kami belum bisa berharap banyak apalagi memberinya harapan yang muluk-muluk bahwa karyanya pasti bisa diterbitkan.

Nailah Adhwa Atiqah, anak biasa-biasa saja yang tidak pernah menunjukkan prestasi hebat dan super di sekolah. Ia bahkan tidak pernah merasa perlu untuk meraih prestasi di sekolah sehingga tidak pernah terdengar keinginannya untuk menjadi juara. Selain hanya orang tuanya yang tidak ingin hasil belajarnya kurang memuaskan, kadang kami sedikit memberinya tekanan-tekanan agar lebih giat belajar karena belajar baginya hanyalah mengerjakan tugas/PR dari sekolah, selain itu bermain dan menonton walaupun tangannya tidak pernah diam menggambar dan menulis.

Masa SD nya sejak kelas I hingga kelas III ia jalani di Kota Makassar bersama ibunya dan terpisah dari ayahnya yang bekerja di Kota Bontang sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sewaktu sekolah di Makassar, hampir seluruh waktu bermainnya tersita jam sekolah. Berangkat di pagi hari sekitar jam 06.00 pagi dan tiba kembali di rumah kadang setelah Maghrib. Rasa letihnya pun menyita gairah belajarnya di malam hari sehingga waktu tidurnya lebih awal bahkan shalat isya pun kadang terlewatkan karena terlelap tidur. Satu-satunya hiburan yang menghias hari-harinya yang melelahkan kala itu adalah membaca buku dan yang menjadi favoritnya adalah buku seri Kecil-Kecil Punya Karya. Karena ayahnya tinggal di Bontang, maka untuk memenuhi hasrat membacanya, buku-buku tersebut kadang dibelikan secara online di www.bukukita.com dan langsung dialamatkan ke Makassar. Dari kebiasaan membacanya tersebutlah ia sering meniru gaya bertutur dalam cerita yang dibacanya dan dituangkan dalam tulisan-tulisan yang tidak beraturan dan tidak tertata.

Naik kelas IV SD, Nailah pun pindah sekolah ke Bontang dan tinggal hanya berdua bersama ayahnya sambil menunggu ibunya menyelesaikan studinya di Makassar. Kepindahannya ke Bontang tidak berjalan mulus. Beberapa sekolah menolaknya karena alasan sekolah penuh ataupun tidak mempunyai cukup kompetensi untuk diterima di sekolah yang cukup difavoritkan. Suatu hari air matanya bercucuran tak kuasa menahan sedih ketika menerima kenyataan tidak diterima di sekolah tempat ia dites untuk masuk sebagai murid pindahan. Kami sebagai orang tua pun tak kuasa menahan emosi dan tumpah dalam derai air mata menyatu dalam sedihnya. Beruntung ayahnya teringat suatu sekolah swasta yang termasuk tidak diunggulkan di Kota Bontang dan Nailah pun diterima meski dengan tes masuk yang tidak memadai. Nailah pun melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut dengan penuh harapan untuk mendapatkan bimbingan dan asuhan yang lebih baik. Namun harapan itu tidak berjalan indah karena Nailah kecil harus berhadapan dengan kondisi yang cukup berbeda. Ia pun mengalami stress sehingga sempat putus asa dan berkeinginan untuk kembali ke sekolahnya di Makassar. Sebagai orang tua tentunya kami tidak ingin melihatnya larut dalam putus asanya, sehingga kami pun berpikir untuk mencarikan aktivitas yang akan menghiburnya dan sekaligus menjadi kegemarannya.

Buku cerita karya bersama Nilah dan teman-teman dari SD IT Assyamil, SD Vidatra dan SDN 002

Nailah dan teman-teman saat peluncuran buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng”

Suatu hari kami melintas di depan rumah Bapak Ma’ruf Effendi yang sebelumnya kami ketahui bahwa istrinya, Muthi Masfu’ah adalah seorang pegiat literasi di Bontang dan pernah menjadi ketua Forum Lingkar Pena (FLP) willayah Kalimantan Timur. Saat itu di pagar rumahnya terpasang spanduk Rumah Kreatif Salsabila yang menjadi tempat bimbingan belajar termasuk di dalamnya Sanggar Jurnalistik Cilik yang membina anak-anak menuangkan ide-idenya dalam karya gambar dan tulisan. Kami berpikir, inilah tempat yang paling tepat untuk Nailah memaksimalkan kegemarannya. Nailah begitu bersemangat ketika kami menceritakan tentang siapa Ibu Muthi Masfu’ah dan sangat ingin meniru jejaknya sebagai penulis. Tidak berlangsung lama, selang beberapa bulan Nailah mengikuti bimbingan jurnalistik di Rumah Kreatif Salsabila, Ibu Muthi Masfu’ah pun menyampaiakan bahwa tulisan Nailah bersama teman-temannya akan diterbitkan dan akan segera diluncurkan pada hari Ahad, 23 Desember 2012 di Hotel Tiara Surya Bontang. Nailah pun sangat senang dan bersemangat mengikuti latihan beberapa hari untuk persiapan tampil membacakan ceritanya dalam acara peluncuran bukunya tersebut. Buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng” pun hadir mengisi khazanah buku cerita bergambar khas anak-anak sebagai karya anak-anak Bontang yang terangkai dalam kegiatan Bontang Menulis dan Gebyar 5 Karya Buku. Semoga semangat ananda Nailah hari ini terus mengalir menuju muara karya yang terus menggelorakan lautan ide dan pemikiran.

Selamat untukmu, Nak! Teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2012 in Alam Pendidikan

 

PELUIT PAK POLISI


Dalam perjalanan ke kantor pagi ini, tidak banyak saya perhatikan sepenjang jalan. Namun saya sempat memerhatikan beberapa orang polisi di beberapa ruas jalan. Seperti biasanya di pagi hari, bapak atau ibu polisi mengawasi dan mengatur lalu lintas. Meski Bontang kota kecil, tetapi lalu lintas di pagi hari cukup ramai baik oleh orang-orang yang berangkat bekerja maupun anak-anak yang berangkat ke sekolah. Sudah menjadi kelaziman polisi pengatur lalu lintas selalu melengkapi diri dengan aksesoris berupa sebuah peluit. Saya tidak sempat melihat peluit yang dibunyikan pagi ini, tapi saya sempat mendengar sekali bunyi sempritannya.

Berpikir tentang peluit polisi, saya pun mereka-reka dalam pikiran  andaikan peluit itu tidak harus diletakkan di bibir dan ditiup. Ada beberapa ide berkecamuk di pikiran saya, salah satunya adalah penggunaan teknologi untuk mempermudah pekerjaan manusia. Sepanjang perjalanan saya merenung; betapa kolotnya polisi ini dari dulu hingga sekarang masih menggunakan peluit tiup. Memang saya belum pernah melihat peluit yang tidak menggunakan tiupan dari mulut, tetapi mengamati perkembangan teknologi saat ini, sangat meungkin menggunakan peluit tanpa harus menghembus di lubang peluit atau selalu memarkir sebuah peluit di bibir yang tidak terjamin kebersihannya. Karena penasaran dengan peluit, saya mencoba mencari beberapa ulasan terkait dengan peluit ini. Ternyata ide saya bukan yang baru karena di kompasiana saya menemukan tulisan Kusmayanto Kadiman tentang ide penggunaan peluit elektronik. Di sana penulis menawarkan sebuah konsep peluit agar tepat sasaran dikombinasikan dengan pancaran sinar untuk mengantisipasi tidak terdengarnya suara peluit akibat kebisingan atau dari dalam kendaraan yang kedap suara. Tentu ini menjadi tantangan besar karena sangat sulit mengubah tradisi yang sudah mengakar.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 September 2012 in Sekitar Kita

 

RAMADHAN PUN BERLALU

Belum lepas bayangan di benak kita silang perbedaan penentuan awal Ramadhan 1433 (2012 M) Imageantara  
Jumat 20 Juli dan Sabtu 21 Juli, kini malam-malam indahnya telah berlalu tanpa terasa. Kita mungkin terlalu asyik menyibukkan diri untuk meraih keutamaan-keutamaannya sehingga malam-malam berlalu belum menuntaskan hasrat spiritual kita yang selalu haus mereguk cinta yang ditumpahkan ke bumi bersama datangnya Ramadhan. Bagai pengembara yang berjalan selama sebelas bulan, di Ramadhan ia menemui mata air yang bening dan sejuk untuk melepas dahaga dan membersihkan diri. Seperti Rasul mulia Muhammad SAW pernah berujar, andaikata ummatku mengerti rahasia Ramadhan itu, niscaya ia menghendaki sebelas bulan lainnya di-Ramadhan-kan. Maka sang pengembara pun menemui Ramadhan ini terasa terlalu singkat dan sangat berharap sepanjang tahun menjadi Ramadhan. Bagai rindu yang tidak akan pernah terpuaskan dengan hanya pertemuan, bahkan pertemuan itu semakin menggelorakan cinta, menghanyutkan diri ke asmaraloka yang membuatnya lupa segalanya. Tersadar begitu masa segera berlalu, kesedihan menyayat kesyahduan, tangis perih menatap gerbang perpisahan. Malam-malam terakhirnya seakan hendak dihabiskan tanpa jeda dengan puja-puji,  bersama pengharapan dan rasa takut yang mencekam seakan belum cukup laku tirakat menakzimkan bulan penuh berkah dan ampunan ini. Maka kecamuk bathin pun tumpah di alam iktikaf, hendak menghabiskan masa dengan berasyik-masyuk dengan Sang Pujaan.

Terlalu indah Ramadhan ini untuk dibiarkan berlalu, karena meskipun umur membawa kita berjumpa Ramadhan berikutnya, tidak akan pernah menggantikan nikmat Ramadhan tahun ini. Maka bagi sang penikmat ritual Ramadhan, tak ada celah untuk melewatkan ibadah. Beruntunglah orang-orang yang sempat melahap nikmatnya cita rasa Ramadhan seakan tak hendak menyisakan hingga tetes terakhir. Maka wajar jika mereka berharap Ramadhan berlangsung sepanjang tahun.

Namun sungguh disayangkan, tidak semua mampu menikmati. Boleh jadi karena kadar keilmuan dan keimanan yang belum cukup untuk membuka tirai rahasia Ramadhan. Tidak sedikit orang yang menganggap Ramadhan sebagai beban bahkan menjadi masa-masa yang menyiksa. Harapannya hanyalah agar Ramadhan segera berlalu dan datangnya Idul Fitri dinantikan dengan suka cita. Bukan untuk menyambut saat kemenangan, tetapi untuk menuntaskan segala hasrat yang terkurung selama Ramadhan. Baginya, Ramadhan adalah bulan penuh tekanan, pengekangan keinginan yang menjauhkan dari segala nikmat yang hendak dimanjakan.

Adapula yang menyambut Ramadhan dengan setengah hati. Di satu sisi sangat ingin meraih keutamaan-keutamaan Ramadhan. Apa daya tekad belum membulatkan semangatnya sehingga masih sempat melalaikan saat-saat terpenting yang seharusnya dapat mengangkat dirinya kepada level keimanan yang lebih tinggi. Bagi orang yang seperti ini, Ramadhan adalah medan perjuangan yang teramat berat. Ketika hawa nafsu hendak dimanjakan, masih sempat teringat dengan pesan-pesan Ramadhan untuk dapat menahan diri meskipun kendali kadang terlepas. Mungkin di suatu saat ia menemui dirinya sangat menikmati Ramadhan, bahkan sempat mengisi akhir sepertiga malamnya dengan ibadah yang khusyu. Tetapi keadaan kadang memalingkan hasrat ibadahnya dan menoleh pada keindahan duniawi yang sesaat. Dengan permohonan yang sungguh-sungguh mengharap pertolongan Allah SWT, kiranya dapat menolongnya meneguhkan diri untuk meraih setitik cinta di momen Ramadhan sehingga tersisa kenangan untuk tetap merindukan Ramadhan di tahun berikutnya.

Ramadhan pun dapat menjadi waktu yang sangat potensial meraih keuntungan duniawi bagi sebagian orang. Banyak pedagang menyambut Ramadhan dengan suka ria. Bukan untuk beribadah mengharap ridha Allah SWT, tetapi meningkatkan omzet penjualan yang dapat meningkat drastis di bulan ini. Maka para pedagang pun bersaing dengan segala macam strategi dagang untuk meraup keuntungan. Sungguhpun tidak ada larangan untuk itu, tetapi keuntungan hakiki dapat terlepas dari genggaman manakala tujuan Ramadhan sesungguhnya terlupakan.

Menjelang akhir Ramadhan tahun ini, kita memohon semoga mendapat yudisium dengan predikat Taqwa sehingga kita dapat menjalani bulan-bulan lainnya bagai Ramadhan sepanjang masa. Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin. Selamat menyambut Idul Fitri 1433 H. Mari kita rayakan dengan khidmat dan khusyu agar kemenangan itu sungguh menjadi nyata.

Salam,

Bun Yamin

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Agustus 2012 in Kontemplasi, Religi

 

SENANDUNG RINTIHAN MALAM

Ya Allah
Kami memohon kepada-Mu dengan bersaksi
Engkaulah Allah
Yang tiada Tuhan selain Engkau
 Kami menghadapkan wajah pada-Mu dengan berkhidmat
Memohon dengan penuh harap
Berharap kebesaran rahmat-Mu
Keagungan karunia-Mu
Keluasan hamparan maghfirah-Mu
 
Ilahi..
Wajah ini muram berlumur nista
Hati ini kusut berbalut dosa
Pikiran ini payah berkabut nestapa
 
Jika bukan karena keluasan rahmat-Mu
Jika bukan karena curahan kasih dan sayang-Mu
Jika bukan karena Engkau Maha Pengampun atas segala dosa
Tiadalah kami menjadi hamba-Mu
Yang mendapat kemuliaan di sisi-Mu
 
Ya Allah
Ampuni kami atas segala dosa
Teguhkan kami menempuh jalan ridha-Mu
Bukalah hati kami untuk menyambut cahaya keagungan-Mu
Terangilah fikiran kami untuk menerima hikmah-Mu
Basuhlah wajah kami dengan sejuknya cinta kasih-Mu
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Agustus 2012 in Kontemplasi

 

Tag: , , , , ,

MUSLIMAH YANG MODIS NAN SEKSI (sisi pandang lain)

Pada dua tulisan sebelumnya, saya terusik (tapi asik) dengan fenomena busana seksi ala muslimah gaul. Di sini saya terobsesi lagi dengan fenomena yang tidak kalah asik. Saya telah banyak menyaksikan busana muslimah yang serba tertutup, bukan sekedar membungkus seperti sering diulas oleh teman-teman di dalam forum-forum Basic Training HMI. Karena saya sempat bergabung dalam komunitas HMI ini, jadi teman-teman dari kalangan akhwat umumnya memakai busana yang serba tertutup bahkan kadang ditambah dengan cadar. Bukan maksud saya berteori tentang aurat dan hijab, tetapi saya ingin mengalihkan sudut pandang kita tentang busana muslimah ini yang sering diidentikkan dengan kelompok ekstrim.

Meski tanpa hak, saya ingin menggeser makna modis dan seksi dalam suatu persepsi lain melihat cara muslimah berbusana. Otak kita sering membuat batasan untuk menjelaskan makna suatu hal, tetapi ketika batasan itu ditranslasi pada posisi lain, maka tampak sisi yang berbeda. Memang tidak mudah untuk mengubah persepsi karena kita lebih mudah terbawa pada trend daripada penalaran. Kata modis dihubungkan dengan kebaruan. Artinya sesuatu dianggap modis jika mengikuti perkembangan terbaru. Dalam pengertian ini, otak modis adalah otak yang trendy mengikuti perkembangan terbaru. Ini hanya istilah asal-asalan yang saya buat sebagai pembanding dengan maksud melabilkan pembatasan kita pada makna suatu istilah untuk tidak berbetah pada satu pemahaman.

Jilbab lebar berkibar, gaun panjang menjuntai akan menjadi sangat modis dalam pemahaman yang sederhana

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juli 2012 in Sekitar Kita