RSS

CITRA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI ANTARA CACIAN DAN HARAPAN

18 Jan

Curah ide: Bun Yamin

Suata fakta yang tak terbantahkan bahwa penerimaan calon pegawai negeri hingga saat ini belum dapat disebut bebas dari masalah meskipun kadang kala tidak dipermasalahkan. Entah bagaimana awal mulanya, kapan dan siapa yang memulai; suap-menyuap, titip-menitip, menjadi trend terselubung untuk mewujudkan hajat menjadi calon pegawai negeri. Andaikan tidak dianggap kurang etis, cobalah kita bertanya seraya mengharap kejujuran dari saudara-saudara kita, bagaimana awalnya mereka diterima sebagai calon pegawai negeri, baik mereka yang sudah memiliki jabatan tinggi, maupun bawahan yang paling rendah sekalipun, mungkin nurani kita akan tercengang bahwa jawaban jujur mereka justru memudarkan rasa simpati kita ketika sebagian besarnya telah mengorbankan rasa malu dan harga diri sebagai ‘tumbal keberhasilan’ mereka. (Untuk data yang lebih obyektif akan lebih baik jika ada penelitian lebih lanjut mengenai hal ini).

Tentunya bukan hanya pegawai negeri yang terserempet dalam ‘trend’ seperti ini, karena hampir di setiap instansi yang melaksanakan penerimaan calon tenaga kerja terdapat ketidakjujuran dan ketidakadilan. Mengapa pegawai negeri yang disorot dalam masalah ini? Bukan bermaksud membuka aib diri dan kawan sendiri, atau berlaku tidak adil dengan menyudutkan satu pihak dan membiarkan yang lain malah terjun ke jurang kenistaan.

Pegawai negeri adalah simbol kepercayaan masyarakat karena segala urusan formalitas publik dititipkan padanya. Citra negeri terpola dalam sikap dan tingkah lakunya. Sehingga harapan terbaik bangsa dan negeri ini menjadi impian yang akan terwujud dengan tampilnya pegawai negeri dengan kualitas pribadi yang handal, pelopor dan penggerak kemajuan, pemimpin yang dicintai, dipercaya, pembimbing, memiliki keutuhan pribadi yang akan mengangkat derajatnya sebagai pemimpin abadi.

Sosok Pegawai Negeri Sipil dalam Realita

Menurut Undang-Undang nomor 43 tahun 1999 pasal 2 bahwa pegawai negeri terdiri dari: Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI dan Anggota Kepolisian Negara RI. Dalam pengertian ini, yang dimaksud Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pembahasan ini dibatasi pada masalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara professional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan dengan dilandasi kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945. Dengan tugasnya sebagai pelayanan masyarakat, maka PNS sangat potensial terbangun citranya karena persentuhan secara langsung kepada masyarakat luas yang demikian menyebabkan setiap mata akan mengawasinya dan setiap mulut akan membicaraknnya, bahkan setiap sikap dan tindakan akan mengarah padanya dalam bentuk reaksi positif atau negatif, tergantung dari sifat pelayanan yang mereka berikan. Kesabaran, kelapangan hati dan juga introspeksi diri menjadi tuntutan wajib bagi PNS ketika kekeliruan yang diperbuatnya sekecil apapun akan menjadi besar di ‘mulut’ masyarakat, dan di sisi lain, pelayanan yang diberikan setulus hati pun akan sangat mudah dilupakan. Tarik ulur antara cacian dan pujian (jika ada) menggambarkan sosok samar-samar dari realitas diri PNS. Mengapa sosoknya samar-samar?

Citra negatif terlanjur melekat padanya. Fallacy of Dramatic Instance, suatu bentuk kesalahan berpikir yang berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan “over-generalization”  yaitu penggunaan satu-dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Kesalahan berfikir seperti inilah yang nampaknya mendukung terbangunnya citra negatif tersebut. Bahwa PNS dipilih dan diangkat melalui jalur KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), oportunis, memanfaatkan posisi untuk meraup pendapatan liar sehingga dengan gaji kecilnya sanggup meraih kekayaan fantastis. Dari segi disiplin, PNS dikenal sebagai pemilik sah ‘jam karet’, tidak memilki batas tegas dalam penggunaan waktu, lebih banyak nongkrong, baca koran, main catur bahkan ngerumpi di tempat kerja. Split personality atau pribadi terbelah, tidak memiliki integritas moral dapat terjadi karena PNS merupakan out put pendidikan yang membinanya ke arah tersebut. Seperti diketahui bahwa paradigma keilmuan yang dianut secara tak sadar dalam system pendidikan kita sangat sekularistik. Ilmu, seni, moral, dan agama dalam system ini adalah sesuatu yang berjalan dalam relnya dan menuju stasiun masing-masing.

Etos kerja juga turut memberikan andil dalam negatifnya citra PNS. Alasan kecilnya gaji mungkin sangat klasik, sifat materialistik dengan legalitas tuntutan kebutuhan hidup yang menjadi patron semangatnya secara linear untuk bekerja. Pengawasan yang longgar menjadi lahan subur untuk menerapkan ‘kebijakan yang tidak bijak’. Melayani masyarakat setengah hati dengan system birokrasi yang panjang dan berliku-liku.

Sekali lagi, kesalahan berfikir menyebabkan citra negatif tersebut seakan-akan berlaku umum kepada semua PNS. Dalam kenyataannya, tidak benar bahwa semua PNS itu produk KKN dan atau praktisi KKN. Di antaranya ada juga yang bersih, berwibawa, professional, bertanggung jawab dan memiliki integritas pribadi yang kokoh. Tetapi mereka yang seperti ini justru tenggelam. Mengapa tenggelam? Apakah dari segi kuantitas, mereka itu sangat sedikit? Mungkin. Dan membedakannya juga tidak mudah. Bagai permata, kilauan cahayanya tertutup debu.

Di antara bayang-bayang citra diri PNS yang mengorbit di lintasan partikel bermuatan negatif, gaya tarik partikel bermuatan positif pada intinya masih memberikan pengaruh yang sangat besar kepada pembentukan molekul-molekul baru sehingga ketika terdapat peluang untuk bergabung dalam komunitas ini dalam bentuk lowongan pekerjaan untuk menjadi PNS, maka dapat dipastikan bahwa antrean pelamar akan jauh melebihi kuota yang akan diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai PNS masih sangat diminati masyarakat pada umumnya dan masih menjadi harapan besar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bersama Kita Berbenah Walaupun Sudah Terlambat

Slogan yang sering diucapkan “tak ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan” tampaknya tidak berlaku dalam kajian ini. Karena kenyataannya kita sudah sangat terlambat. Sudah banyak materi yang dikorbankan, perasaan yang dihancurkan, kepercayaan yang digadaikan, profesionalitas yang diperbudak materi. Kalau sudah disebutkan sebelumnya bahwa citra buruk yang disandang PNS tidak dapat digeneralisasikan mengingat adanya sejumlah atau segelintir dari mereka hanyalah korban lingkungan sekitarnya. Dosa sebagian orang harus ditanggunng bersama sungguh menjadi kenyataan yang tidak adil. Kini ada suatu pertanyaan yang sewajarnya muncul dalam benak kita, baik dalam posisi kita sebagai PNS yang hanya terkena imbasnya atau turut berperan aktif dalam pencitraan tersebut, maupun masyarakat secara umum : “Maukah kita memperbaiki citra PNS tersebut dengan memindahkan kutubnya dari negatif ke positif ?” Dari nurani semua orang tahu dan sepakat akan jawaban pertanyaan tersebut. Masalah selanjutnya adalah “Bagaimana kita memperbaikinya?”

Untuk suatu perbaikan, yang dibutuhkan bukan ide atau gagasan baru, tetapi semangat dan kesadaran baru. Langkah awalnya adalah kesadaran tentang ralitas yang ada. Di sekitar kita terdapat banyak masalah tetapi kadang kala tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah masalah yang patut dipermasalahkan. Seperti hal yang telah dipaparkan di atas, sebagian kita mungkin sudah cukup tenang dengan menerima keadaannya sebagai sesuatu yang pantas. Argumennya adalah PNS wajar menerima hujatan atas citra buruknya karena memang demikian kenyataan yang ada. Kepasrahan seperti ini tidak dapat ‘diampuni’ karena masalah yang sebenarnya bukan ketidaksesuaian antara fakta dan cerita atau tuduhan tanpa bukti. Yang kita inginkan adalah adanya perubahan persepsi yang tentunya didahului dengan perbaikan kondisi sehingga persepsi yang keliru dapat diluruskan dan kondisi yang salah dapat dibenarkan (diperbaiki).

Kesadaran diimplementasikan dengan kepedulian pada suatu hal yang akan menggerakkan rasa tanggung jawab pada persoalan yang menuntut penyelesaian. Terkadang kita menyaksikan adanya suatu masalah tetapi tidak tergerak untuk mengupayakan penyelesaiannya. Mungkin karena sensitivitas nurani kita yang sudah bebal karena seringnya terabaikan. Membiarkan masalah pribadi berlarut-larut tanpa usaha sungguh-sungguh untuk menyelesaikannya merupakan awal dari ketidakpekaan nurani terhadap masalah yang ada di sekitar kita. Sifat egosentris misalnya merupakan ketidakpedulian terhadap diri sendiri karena mengabaikan fitrah diri sebagai makhluk berkesadaran sosial.

 

Blogged with the Flock Browser
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2010 in Sekitar Kita

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: