RSS

Arsip Bulanan: April 2012

PNS SEPERTI APA YANG ANDA TAHU?

Tonggak tegaknya negeri ini ada di tangan birokrat, khususnya PNS. Wajar saja jika carut-marutnya masalah negeri  sering dipautkan kepada PNS sebagai biang keroknya, terlepas itu salah sasaran atau benar, orang yang tidak mengerti persoalan pun serta-merta membenarkan. Saya tidak ingin terjebak dalam generalisasi kejadian sebagai fenomena umum, tapi saya ingin mendudukkan setiap masalah pada tempatnya. Bukan sebagai pembelaan atas posisi saya sebagai PNS, tetapi hanya menyampaikan pesan agar siapa pun tidak terjebak pada klaim yang membawanya pada pemahaman dan kesimpulan yang salah.

PNS memang paling banyak disorot, terutama kinerjanya yang dianggap sangat buruk. Entah memang ada yang salah dengan sistem pembinaan PNS dan pengelolaan kepegawaian, tetapi secara pribadi saya melihat memang terlalu banyak celah yang memberikan kesempatan kepada pelayan masyarakat ini untuk melalaikan tanggung jawabnya. Sistem pengawasan internal yang lemah karena aturan yang dijadikan pegangan tidak sepenuhnya dijalankan menyebabkan tidak adanya kewibawaan sehingga setiap pegawai merasa tidak bersalah melanggarnya. Ruang pelanggaran dalam pengelolaan keuangan juga sangat lapang. Meskipun dengan berbagai sorotan masalah korupsi, tetapi toh penikmat korupsi juga tetap santai menjalankan aksinya. Apanya yang lemah? Konsepnya tentang administrasi!!! Kebenaran yang dipegang dalam sistem birokrasi adalah kebenaran administratif. Jika secara administrasi sudah lengkap dan memenuhi standar, maka itu sudah cukup entah dengan cara dan jalan apa yang dilakukan untuk melengkapinya. Maka wajarlah jika dokumen-dokumen palsu, rekayasa laporan kegiatan, manipulasi angka-angka menjadi hal yang sangat mudah dan mungkin dilakukan.

Tetapi sangat tidak adil jika saya hanya mengungkap sisi buruk PNS di ruang ini, dan pastinya saya akan dicaci habis-habisan oleh sesama rekan jika tidak menunjukkan sikap seorang PNS yang berintegritas dan bertanggung jawab penuh atas tugasnya. Mungkin Anda tahu bahwa banyak PNS yang terangkat dengan cara yang tidak halal dan memang lebih mudah dan menarik diomongin. Tidak ada yang tertarik membincangkan seorang PNS yang berjuang dengan penuh kejujuran, mengikuti seleksi CPNS dengan cara yang gentle. Anda juga pasti tidak tertarik membicarakan seorang PNS yang rela kehilangan jabatan karena mempertahankan integritas dan idealisme. Bagi sebagian orang memandang bahwa menjadi PNS tidak ada gunanya lagi mempertahankan idealisme karena itu suatu hal yang mustahil.

Anda tahu? Seorang PNS dituntut loyalitasnya kepada negara, dan salah satu manifestasinya adalah loyal kepada pimpinan. Tetapi tidak jarang seorang PNS berbeda prinsip dengan atasannya yang menyebabkan nasib karirnya kurang baik di pemerintahan. Kesalahan memang lebih mudah diletakkan di posisi yang lebih rendah karena untuk mengangkatnya butuh energi yang lebih besar dan waktu yang tidak singkat.

Dan mungkin masih banyak hal-hal baik tentang diri PNS, tetapi tidak menarik untuk diberitakan. Tetaplah jadi PNS dengan diri seutuhnya sebagai manusia yang berprinsip dan berkarakter.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 April 2012 in Sekitar Kita

 

MENCATAT ULANG TANGGAL KELAHIRAN

Setelah sekian lama blog ini menjalani masa sepi di dunia maya karena menganggur tanpa tulisan dan tanpa kunjungan, aku coba mengusik tapa bratanya tanpa suatu maksud penting apatah lagi istimewa. Aku tak mengerti, tiba-tiba merasa perlu untuk kembali bercengkrama dengannya dengan menyuguhkan sesajen ini yang kuharap bisa melepas lapar-dahaganya.

Tepat setahun yang lalu aku menulis sebuah catatan kecil tentang makna sebuah ulang tahun yang intinya hanyalah sebuah renungan singkat tentang kebermaknaan dan keberadaan diri yang hingga hari ini masih teramat samar. Betul…! Ini sebuah kebodohan fatal dari perjalanan tahun ke tahun yang tidak singkat tapi tak jua menemukan sebuah titik yang meyakinkan hidup bahwa ke situlah akan diarahkan sepenuhnya dengan segala daya. Tapi kebodohan inilah yang harus kucatat di sini karena hanya inilah yang bisa kujelaskan tentang diriku yang sungguh-sungguh ada.

Seperti telah kucatat setahun yang lalu, aku sungguh tak mengerti makna perayaan ulang tahun yang sesungguh-sungguhnya meskipun setiap orang selalu menjadikan momen ini teramat istimewa dalam hidupnya. Aku hanya mencoba menjelaskan arti tangisku di saat lahir sebagai sebuah pekik atas kepahlawanan seorang ibu yang darahnya tumpah ke bumi mengiringi kehadiran makhluk baru yang entah kelak akan menjadi apa. Regangan nyawa telah dipertaruhkan bunda, tapi senyum bahagia tetap memancar dengan tulusnya dari bibirnya yang kering setelah menahan perih yang tiada tara. Sungguh hina hidup yang tersiakan ini, perjuangan seorang ibu tersia-siakan dengan hidup yang semau-maunya.Di pangkuannya aku pernah tergolek lemah tanpa kuasa atas diri sendiri, tapi tak sedikitpun kebutuhanku -yang tak mampu kuraih- terabaikan oleh bunda. Aku berucap dengan tangis, bunda menyahut dengan kelembutan kasihnya mencerna setiap irama tangisku dengan makna yang hanya dipahaminya.

Kalau hari ini akau mencatat kembali tanggal hari indah itu, di sampul indahnya pastilah terukir nama bunda dan ayah yang kini semakin merenta. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepada mereka tentang harapan-harapannya yang mengawal hidupku dengan kasih sayang yang tak pernah putus. Mungkin aku tidak malu untuk kembali menangis manja dalam peluknya hari ini, tetapi aku sungguh malu tentang hidupku yang tidak kubuat berarti bagi kasih sayangnya. Betapa pun aku selalu rindu untuk senantiasa berada di sisinya, tapi aku malu menunjukkan diriku dengan kerapuhan.

Hari ini aku berulang tahun dalam catatan istilah. Aku punya harapan dan cita-cita, aku punya khayalan dan angan-angan. Tetapi seberapakah kekuatan hari ini menegaskan kembali harapanku tentang kebaikan yang kudambakan? Dan sejauh mana aku mampu melukis makna perjuangan yang dititipkan bunda kepadaku dan ditegaskan oleh ayahanda untuk menguatkan diri dengan kesabaran? Oh, ayah dan bunda yang jauh di pelupuk mata! Izinkan aku mengurai tangisku di sini untuk menyaksikan sebentuk titik air mata yang juga pernah kalian teteskan untuk bahagiaku selamanya dalam doa-doa malammu yang indahnya menggemparkan langit. Antarkan aku dalam kenangan rindu agar aku selalu setia pada kasih sayang, kebaikan dan perjuangan. Semoga kebahagiaan menyertaimu dalam ampunan dan kasih sayang Allah Yang Maha Kasih.

Bontang, 29 April 2012

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2012 in Kontemplasi