RSS

MENCATAT ULANG TANGGAL KELAHIRAN

28 Apr

Setelah sekian lama blog ini menjalani masa sepi di dunia maya karena menganggur tanpa tulisan dan tanpa kunjungan, aku coba mengusik tapa bratanya tanpa suatu maksud penting apatah lagi istimewa. Aku tak mengerti, tiba-tiba merasa perlu untuk kembali bercengkrama dengannya dengan menyuguhkan sesajen ini yang kuharap bisa melepas lapar-dahaganya.

Tepat setahun yang lalu aku menulis sebuah catatan kecil tentang makna sebuah ulang tahun yang intinya hanyalah sebuah renungan singkat tentang kebermaknaan dan keberadaan diri yang hingga hari ini masih teramat samar. Betul…! Ini sebuah kebodohan fatal dari perjalanan tahun ke tahun yang tidak singkat tapi tak jua menemukan sebuah titik yang meyakinkan hidup bahwa ke situlah akan diarahkan sepenuhnya dengan segala daya. Tapi kebodohan inilah yang harus kucatat di sini karena hanya inilah yang bisa kujelaskan tentang diriku yang sungguh-sungguh ada.

Seperti telah kucatat setahun yang lalu, aku sungguh tak mengerti makna perayaan ulang tahun yang sesungguh-sungguhnya meskipun setiap orang selalu menjadikan momen ini teramat istimewa dalam hidupnya. Aku hanya mencoba menjelaskan arti tangisku di saat lahir sebagai sebuah pekik atas kepahlawanan seorang ibu yang darahnya tumpah ke bumi mengiringi kehadiran makhluk baru yang entah kelak akan menjadi apa. Regangan nyawa telah dipertaruhkan bunda, tapi senyum bahagia tetap memancar dengan tulusnya dari bibirnya yang kering setelah menahan perih yang tiada tara. Sungguh hina hidup yang tersiakan ini, perjuangan seorang ibu tersia-siakan dengan hidup yang semau-maunya.Di pangkuannya aku pernah tergolek lemah tanpa kuasa atas diri sendiri, tapi tak sedikitpun kebutuhanku -yang tak mampu kuraih- terabaikan oleh bunda. Aku berucap dengan tangis, bunda menyahut dengan kelembutan kasihnya mencerna setiap irama tangisku dengan makna yang hanya dipahaminya.

Kalau hari ini akau mencatat kembali tanggal hari indah itu, di sampul indahnya pastilah terukir nama bunda dan ayah yang kini semakin merenta. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepada mereka tentang harapan-harapannya yang mengawal hidupku dengan kasih sayang yang tak pernah putus. Mungkin aku tidak malu untuk kembali menangis manja dalam peluknya hari ini, tetapi aku sungguh malu tentang hidupku yang tidak kubuat berarti bagi kasih sayangnya. Betapa pun aku selalu rindu untuk senantiasa berada di sisinya, tapi aku malu menunjukkan diriku dengan kerapuhan.

Hari ini aku berulang tahun dalam catatan istilah. Aku punya harapan dan cita-cita, aku punya khayalan dan angan-angan. Tetapi seberapakah kekuatan hari ini menegaskan kembali harapanku tentang kebaikan yang kudambakan? Dan sejauh mana aku mampu melukis makna perjuangan yang dititipkan bunda kepadaku dan ditegaskan oleh ayahanda untuk menguatkan diri dengan kesabaran? Oh, ayah dan bunda yang jauh di pelupuk mata! Izinkan aku mengurai tangisku di sini untuk menyaksikan sebentuk titik air mata yang juga pernah kalian teteskan untuk bahagiaku selamanya dalam doa-doa malammu yang indahnya menggemparkan langit. Antarkan aku dalam kenangan rindu agar aku selalu setia pada kasih sayang, kebaikan dan perjuangan. Semoga kebahagiaan menyertaimu dalam ampunan dan kasih sayang Allah Yang Maha Kasih.

Bontang, 29 April 2012

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2012 in Kontemplasi

 

One response to “MENCATAT ULANG TANGGAL KELAHIRAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: