RSS

MENYONTEKLAH SEBAGAIMANA GURU DULU MENYONTEK…!

12 Mei

Image

Saya singgung sedikit tentang kata ‘contek’ atau ‘sontek’. Saya coba-coba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata kata contek tidak ada penjelasannya dan dirujuk ke kata sontek yang salah satu artinya adalah mengutip sebagaimana aslinya. Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut tentang makna sontek itu. Yang pasti kata yang baku berdasarkan KBBI adalah sontek dan bukan contek yang lebih sering kita dengar atau baca dalam berita-berita atau pembicaraan resmi. Untuk penulisan selanjutnya akan disesuaikan dan akan berusaha mempertahankan bentuk bakunya.

Dua tahun terakhir sepertinya berita tentang menyontek tengah hangat-hangatnya ketika kabar tentang Contek Massal di SD Gadel II Surabaya tahun 2011 lalu terangkat dalam headline pemberitaan media. Saya merasa tergelitik ketika bermunculan komentar-komentar yang menyatakan rasa simpati dan dukungannya kepada Ibu Siami yang dianggap berani melawan arus ketidakjujuran di dunia pendidikan. Memang nurani kita belum seutuhnya mati karena betapapun pengalaman kita terdahulu tidak jauh berbeda dengan realita saat ini, tetapi kita masih angkat jempol dengan kejujuran seseorang dan keberaniannya.

Saya berusaha menepiskan rasa pesimis ketika berharap kebiasaan menyontek itu hendak dikubur dalam sejarah masa lalu pendidikan kita. Guru yang menjadi tumpuan harapan kita untuk menanamkan kejujuran kepada anak didiknya mungkin terbelit perasaan bersalah ketika punya pengalaman tidak jujur yang sama di masa lalu. Sehingga kita akan menyaksikan ada guru atau juga dosen yang acuh tak acuh dengan kebiasaan menyontek siswa atau mahasiswanya. Menegur sekedarnya saja sebagai tugas pengawas dalam ujian, tetapi tidak sungguh-sungguh melarang. Yang sungguh disayangkan ketika guru memberikan penialain pada hasil pekerjaan anak didiknya tidak akan mau tahu dengan cara bagaimana sang murid mengerjakannya. Apakah dikerjakan dengan cara yang jujur atau tidak. Memang tidak ada alat ukur yang baku untuk memastikan hasil ujian siswa dikerjakan secara fair atau tidak, sehingga pekerjaan ‘menghukum’ siswa dengan nilai yang buruk bukanlah tindakan bijak atas ‘dugaan’ kecurangan. Karena justru dengan cara seperti inilah, guru bahkan dapat bertindak tidak adil ketika tidak ada informasi lengkap dan akurat yang memastikan semua tindak-tanduk siswa selama mengerjakan soal ujian.

Tindakan pembiaran guru atas ketidakjujuran siswa cukup dapat dimaklumi mengingat pengalaman yang sama (bisa jadi) masih menjadi bayang-bayang sikap guru terhadap anak didiknya. Di sinilah dilemanya. Tapi seorang pendidik bukanlah milik masa lalunya, tetapi bagi masa depan pendidikan dan anak didiknya. Ketika seseorang telah memilih hidup sebagai pendidik di jalur formal, maka ia harus lahir sebagai manusia baru yang berkomitmen pada kebaikan dan perbaikan masyarakat. Dunia pendidikan bukanlah tempat berspekulasi yang menggantungkan keberhasilan pada nasib tanpa kesungguhan untuk berjuang. Pendidiklah yang terdahulu harus menunjukkan suksesnya sebelum berharap lebih kepada anak didik yang dibimbingnya.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2012 in Alam Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: