RSS

KAPAN LAGI AKU BISA MENULIS

14 Mei

Saya kurang mengerti juga makna pertanyaan tersebut dalam judul di atas. Jika tidak salah dalam bahasa ada yang disebut dengan pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Apakah judul tersebut termasuk dalam kategori ini, yang jelas tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Pertanyaan senada dalam keseharian kita terasa sudah lumrah dan tidak perlu diperdebatkan bagaimana menanggapinya, kecuali bagi orang-orang yang resek. 

Aktivitas menulis sudah kita jalani sejak awal kita mengenal sekolah. Jika kita punya catatan tentang jumlah huruf, kata atau kalimat yang pernah kita tulis, mungkin kita tidak menyangka bahwa mungkin sudah berpuluh-puluh kilometer kita menarik pena dan menggoreskan tinta serta jutaan kata dan kalimat pernah kita tulis. Dan jika kita cukup akrab dengan tuts mesin ketik atau keyboard komputer, entah sudah berapa ribu atau juta kali kita memencet huruf A atau yang lainnya. Tetapi menekuni sebuah aktivitas secara serius menulis dan mendokumentasikannya menggunakan media atau alat tertentu mungkin hanya orang-orang tertentu yang sempat melakukannya.

Saya termasuk orang yang tidak fokus dalam menulis, karena ide itu hanya kadang-kadang muncul dan tidak punya cukup wawasan keilmuan dan teknik penulisan yang baik. Kehadiran blog ini awalnya hanyalah dari kebiasaan menjelajah dunia maya sehingga terjebak dalam registrasi akun di wordpress.com. Sebelumnya juga pernah membuat akun di blogger.com dan mencoba bercerita tak bermutu di sana. Anehnya lagi, saya ngeblog di sana tanpa sengaja karena mengutak-atik foto dari ponsel yang dapat langsung diupload ke blog. Bingung entah terkirim ke mana setelah foto tersebut terupload, tiba-tiba ada pesan masuk yang mengirimkan link yang harus dibuka untuk mengaktivasi blog dan jadilah blog itu seperti sekarang.

Saya cukup terkagum-kagum dengan tulisan orang yang sarat dengan kajian ilmu yang dalam dan wawasan yang luas. Saya sering berpikir, jika menulis harus menghasilkan yang seperti itu, mungkin selamanya saya hanya jadi penonton di antara penulis yang hebat-hebat. Saat ini pun saya masih tetap setia menjadi penonton meskipun punya keinginan besar tetapi tak jua mampu mewujudkannya. Untuk mengisi masa-masa jadi penonton (mungkin juga selamanya), sesekali saya mengisi blog ini dengan kata-kata yang masih saya ingat dan tahu artinya dan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat seperti dulu ketika masih sekolah diminta oleh bapak/ibu guru menyusun kalimat. Saya masih ingat ketika dulu masih di SD pada pelajaran Bahasa Indonesia, ada dua jenis buku yang digunakan. Satu buku bacaan yang khusus untuk melatih membaca dan menelaah bacaan, yang satunya lagi adalah buku pelajaran untuk latihan menyusun kata menjadi kalimat. Biasanya perintah membuat kalimat diinstruksikan dengan membuatnya seperti contoh yang telah diberikan. Mungkin pola-pola seperti itulah yang masih saya anut hingga sekarang. Saya suka meniru-niru gaya tulisan orang lain karena tidak punya gaya khas sendiri.

Bagi saya, menulis di blog ini kadang menggunakan waktu yang tidak tepat. Pada saat kesibukan yang seharusnya saya kerjakan lagi menumpuk, saya kadang malah mengutak-atik blog ini meskipun hanya mengubah tampilannya atau mengedit tulisan yang sudah terposting di dalamnya. Saya lebih sering mengabaikan seberapa besar manfaat tulisan saya dan menulis suka-suka tanpa arah dan tujuan pasti. Posting  dalam blog ini belum seberapa, dan saya bersuaha mempertahankan keaslian tulisan tanpa copy-paste. Jika pada kesempatan tertentu saya mengutip tulisan orang lain, saya tetap berusaha mencantumkan sumber atau linknya. Karena saya bukan seorang penulis, maka saya tidak perlu merasa terbebani dengan kelas-kelas atau  level seorang penulis. Saya tidak masuk dalam kelas mana pun, tidak terendah apalagi tertinggi. Senang juga sih melihat penulis-penulis berkelas seperti mereka yang sudah mahir, tapi sekali lagi saya tidak akan pernah menulis di blog ini jika menanti giliran seperti mereka. Saya kadang berkecil hati ketika membaca tulisan orang yang dikritik habis-habisan padahal menurut saya tulisan itu sangat luar biasa. Tapi saya tidak khawatir tulisan dalam blog ini akan dikritik, karena tidak ada yang pantas dikritik. Tulisan yang pantas dikritik hanyalah yang mempunyai pengaruh dalam khazanah pemikiran dan memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial. Untuk tulisan kacangan seperti ini tidak akan mengkhawatirkan membawa pengaruh cara berpikir apalagi daya penggerak sosial.

Saya juga bukan termasuk orang yang menikmati saat-saat menulis. Terkadang menulis menjadi siksaan berat bagi saya jika berusaha menfokuskan pada satu titik pembahasan untuk mengerucutkan pandangan pada suatu simpulan yang bermakna. Karena itulah tulisan-tulisan dalam blog ini hanyalah berlagu seperti catatan harian dari jejak selintas pikir dan rasa yang tak berarah. Tetapi saya berusaha tetap menulis, karena apa lagi dan kapan lagi saya bisa menulis jika tidak MENGGUNAKAN SAAT YANG TIDAK TEPAT.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Alam Pendidikan, Kontemplasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: