RSS

Arsip Bulanan: Juni 2012

HATI-HATI MEMUTUS PERTEMANAN DI DUNIA MAYA

Ada dua hal yang saling beriringan dan terkadang saling mendahului. Dunia semakin sempit kata orang, di sisi lain kita menemui dunia yang teramat luas. Kekuatan teknologi menguasai dunia, mempersempitnya dan menjadikannya bagai boneka di tangan yang begitu mudah dimainkan. Kekuatan teknologi pula telah mengekspansi dunia yang sebelumnya tak terbayangkan oleh pikiran klasik kita. Ajaran suci memperkanalkan kita pada alam syahadah dan alam ghaib. Ghaib hakiki tidak menjadi persoalan dalam ranah logika kita karena ini domainnya iman. Ghaib nisbi adalah wilayah diskursif yang semakin hari semakin jelas dan menjadi bagian realita yang dapat dinalar. Perkenalan cyberspace atau dunia maya oleh   William Gibson yang awalnya diperkenalkan sebagai halusinasi adanya alam lain yang mempertemukan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) yang sekan-akan terdapat ruang dalam medium cyber. Penjelajahan ruang ini telah membawa ummat manusia pada suatu lingkungan dan pergaulan yang sungguh-sungguh berbeda tetapi menjadi kenyataan yang semakin sulit dihindari. Hampir setiap orang sudah terjebak –atau menjebakkan diri– ke dalam lorong-lorongnya yang semakin dalam dan penuh warna-warni. Image

Ketika ruang ini menjadi ajang pertemuan dan pergaulan di sisi yang lain dunia nyata kita, terbentuk pulalah kondisi psikologis yang sedikit agak berbeda. Jika dalam keseharian pergaulan kita saling menyapa dan menatap dengan pandangan mata, di sini kita saling menyapa dengan medium maya sebagai perantara yang mau tidak mau penyampaian pesan atau maksud tidak terwakili lebih sempurna. Kita tahu bahwa tidak semua maksud dapat terwakili oleh kata-kata; ekspresi wajah, artikulasi, intonasi dan gestikulasi sangat menentukan tersampaikannya maksud suatu pesan. Di dunia maya, di samping tulisan pada umumnya kita gunakan, kadang digunakan pula simbol-simbol atau tanda-tanda khusus yang tidak resmi untuk mewakilkan ekspresi. Tetapi simbol dan tanda tetaplah terbatas, dan justru dapat berakibat fatal jika penggunaannya tidak difahami secara umum atau penerimaan makna yang berbeda dari setiap orang. Ketika salah penerimaan makna ini terjadi, konfirmasi pun sulit dilakukan. Di sinilah kerumitan psikologi dunia maya karena pembacaan emosi sangat sulit dilakukan. Kata-kata yang terpampang di hadapan kita tidak menjamin perwakilan emosi dari pemiliknya di ruang maya.

Di sini saya tidak ingin membahas dampak buruk pergaulan di dunia maya sebagaimana banyak dibahas dan marak diperbincangkan. Saya justru ingin melihat hubungan baik yang terjalin melalui dunia maya yang dikenal sebagai jejaring sosial agar tetap segar dan menguatkan silaturrahim. Ketika kita memutuskan bergabung dalam suatu situs jejaring sosial, tentunya kita punya niat baik untuk memperluas dan memperkuat relasi. Namun pada suatu kesempatan kita merasa hubungan kita di dunia maya ini kurang sehat pada seorang relasi atau teman sehingga timbul niat ‘kurang’ baik kita untuk membatasi bahkan memutuskan hubungan. Misalnya di Facebook kita kenal fitur-fitur seperti unfriend, unsubscribe, report/block yang fungsinya membuat batas atau pemutusan hubungan. Untuk pembatasan diperlukan untuk menjaga hubungan dalam hal-hal atau keadaan tertentu, tetapi pemutusan hubungan pertemanan berarti mengakhiri suatu kebaikan yang kita anggap sudah tak perlu diteruskan. Seseorang yang memutus pertalian di dunia maya tentu punya alasan seperti halnya pula dalam keseharian dunia nyata kita berlaku hal yang sama. Tetapi kita juga semua paham bahwa memutus silaturrahim sama saja dengan memutus jalan ke surga sebagaimana dipesankan oleh manusia mulia Muhammad SAW untuk selalu menjaga silaturrahim. Jika kita beranggapan bahwa jejaring sosial di dunia maya hanyalah permainan, dan memutus hubungan di dalamnya juga bagian dari permainan, mungkin kita harus lebih dalam mengkaji psikologi dunia maya yang telah menjadi realita kehidupan. Realitas dunia maya tidak dapat lagi dianggap sebagai sekedar permainan atau hiburan pengisi waktu senggang, sehingga hubungan yang terjalin di dalamnya juga harus tetap terjaga dan tidak menjauhkan kita dari realitas surgawi yang dijanjikan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2012 in Sekitar Kita

 

SOK PUISI

Saya tengah berjuang menulis puisi. Entah mengapa tiba-tiba terpikir juga merangkai kata-kata  untuk mendeskripsikan rasa yang entah indah atau lagi galau. Kata orang, puisi itu luapan perasaan atau ungkapan hati. Mungkin karena dalam kebiasaan kita lebih sering menyatakan sesuatu bukan dari hati sehingga orang merasa perlu berpuisi untuk memastikan hatinya masih ada dan bisa berkata. Tetapi setelah menemukan tulisan Beda Pusi dan Sok Puisi, nyali saya jadi ciut. Menurutnya, sok puisi memiliki ciri berikut :

  • Menggunakan kata atau kalimat berbunga-bunga
  • Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang sulit dipahami
  • Tata bahasanya sering keliru
  • Istilah yang digunakan kadang keliru
  • Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya
  • Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.
  • ATidak ada pesan yang disampaikan

Atas hal-hal di tersebut, saya dapat berkata apa. Bukan keahlian saya untuk menilainya. Jika memang puisi hanya milik orang-orang yang ahli dalam merangkai kata yang teratur dan bermakna, maka bagian orang seperti saya hanyalah meratapi ketidakmampuan dan mencoba meraba-raba ke dasar hati (kalo memang ada dasarnya) tentang kepantasan apa di dalamnya yang layak diungkapkan tanpa perlu berpuisi –atau bersok puisi.

Saya kadang mengagumi kata-kata yang menurut saya terasa indah tanpa berpikir apa maknanya. Heran juga dari mana unsur keindahannya jika maknanya tidak jelas. Bagi saya, cukuplah keindahan sudah bermakna tanpa mempersoalkan makna literalnya.  Tetapi memang juga sering tersentuh dengan ungkapan sederhana dengan maksud yang terang karena penuturannya laksana memasang cermin di hadapan tanpa mengajak kita mereka-reka dan mengkhayal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2012 in Sok Puisi

 

Tag: , , , , , , , ,