RSS

NAILAH DAN KARYANYA

23 Des
Karya Nailah dkk

Buku karya bersama Nailah dkk berupa cerita bergambar

Tidak terhitung berapa karya tulis yang telah dibuatnya dan berceceran di mana-mana. Di rumah kerjanya selain menonton adalah menulis dan menggambar. Cerita-cerita pun berhamburan dari pikiran sederhananya tak terbendung dan hinggap di lembaran-lembaran kertas ataupun buku-buku tulis yang tidak pernah dipikirkan untuk apa dan siapa ia menulis. Tulisan-tulisan itupun tidak tersimpan dengan baik hingga pada gilirannya menjadi tumpukan sampah yang siap dieksekusi ke tempat pembuangan. Meskipun kadang bertutur tentang harapannya agar suatu saat ia menghasilkan karyanya sendiri yang dibukukan, tetapi sebagai orang tua kami belum bisa berharap banyak apalagi memberinya harapan yang muluk-muluk bahwa karyanya pasti bisa diterbitkan.

Nailah Adhwa Atiqah, anak biasa-biasa saja yang tidak pernah menunjukkan prestasi hebat dan super di sekolah. Ia bahkan tidak pernah merasa perlu untuk meraih prestasi di sekolah sehingga tidak pernah terdengar keinginannya untuk menjadi juara. Selain hanya orang tuanya yang tidak ingin hasil belajarnya kurang memuaskan, kadang kami sedikit memberinya tekanan-tekanan agar lebih giat belajar karena belajar baginya hanyalah mengerjakan tugas/PR dari sekolah, selain itu bermain dan menonton walaupun tangannya tidak pernah diam menggambar dan menulis.

Masa SD nya sejak kelas I hingga kelas III ia jalani di Kota Makassar bersama ibunya dan terpisah dari ayahnya yang bekerja di Kota Bontang sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sewaktu sekolah di Makassar, hampir seluruh waktu bermainnya tersita jam sekolah. Berangkat di pagi hari sekitar jam 06.00 pagi dan tiba kembali di rumah kadang setelah Maghrib. Rasa letihnya pun menyita gairah belajarnya di malam hari sehingga waktu tidurnya lebih awal bahkan shalat isya pun kadang terlewatkan karena terlelap tidur. Satu-satunya hiburan yang menghias hari-harinya yang melelahkan kala itu adalah membaca buku dan yang menjadi favoritnya adalah buku seri Kecil-Kecil Punya Karya. Karena ayahnya tinggal di Bontang, maka untuk memenuhi hasrat membacanya, buku-buku tersebut kadang dibelikan secara online di www.bukukita.com dan langsung dialamatkan ke Makassar. Dari kebiasaan membacanya tersebutlah ia sering meniru gaya bertutur dalam cerita yang dibacanya dan dituangkan dalam tulisan-tulisan yang tidak beraturan dan tidak tertata.

Naik kelas IV SD, Nailah pun pindah sekolah ke Bontang dan tinggal hanya berdua bersama ayahnya sambil menunggu ibunya menyelesaikan studinya di Makassar. Kepindahannya ke Bontang tidak berjalan mulus. Beberapa sekolah menolaknya karena alasan sekolah penuh ataupun tidak mempunyai cukup kompetensi untuk diterima di sekolah yang cukup difavoritkan. Suatu hari air matanya bercucuran tak kuasa menahan sedih ketika menerima kenyataan tidak diterima di sekolah tempat ia dites untuk masuk sebagai murid pindahan. Kami sebagai orang tua pun tak kuasa menahan emosi dan tumpah dalam derai air mata menyatu dalam sedihnya. Beruntung ayahnya teringat suatu sekolah swasta yang termasuk tidak diunggulkan di Kota Bontang dan Nailah pun diterima meski dengan tes masuk yang tidak memadai. Nailah pun melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut dengan penuh harapan untuk mendapatkan bimbingan dan asuhan yang lebih baik. Namun harapan itu tidak berjalan indah karena Nailah kecil harus berhadapan dengan kondisi yang cukup berbeda. Ia pun mengalami stress sehingga sempat putus asa dan berkeinginan untuk kembali ke sekolahnya di Makassar. Sebagai orang tua tentunya kami tidak ingin melihatnya larut dalam putus asanya, sehingga kami pun berpikir untuk mencarikan aktivitas yang akan menghiburnya dan sekaligus menjadi kegemarannya.

Buku cerita karya bersama Nilah dan teman-teman dari SD IT Assyamil, SD Vidatra dan SDN 002

Nailah dan teman-teman saat peluncuran buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng”

Suatu hari kami melintas di depan rumah Bapak Ma’ruf Effendi yang sebelumnya kami ketahui bahwa istrinya, Muthi Masfu’ah adalah seorang pegiat literasi di Bontang dan pernah menjadi ketua Forum Lingkar Pena (FLP) willayah Kalimantan Timur. Saat itu di pagar rumahnya terpasang spanduk Rumah Kreatif Salsabila yang menjadi tempat bimbingan belajar termasuk di dalamnya Sanggar Jurnalistik Cilik yang membina anak-anak menuangkan ide-idenya dalam karya gambar dan tulisan. Kami berpikir, inilah tempat yang paling tepat untuk Nailah memaksimalkan kegemarannya. Nailah begitu bersemangat ketika kami menceritakan tentang siapa Ibu Muthi Masfu’ah dan sangat ingin meniru jejaknya sebagai penulis. Tidak berlangsung lama, selang beberapa bulan Nailah mengikuti bimbingan jurnalistik di Rumah Kreatif Salsabila, Ibu Muthi Masfu’ah pun menyampaiakan bahwa tulisan Nailah bersama teman-temannya akan diterbitkan dan akan segera diluncurkan pada hari Ahad, 23 Desember 2012 di Hotel Tiara Surya Bontang. Nailah pun sangat senang dan bersemangat mengikuti latihan beberapa hari untuk persiapan tampil membacakan ceritanya dalam acara peluncuran bukunya tersebut. Buku “Pelangi Cerita di Negeri Dongeng” pun hadir mengisi khazanah buku cerita bergambar khas anak-anak sebagai karya anak-anak Bontang yang terangkai dalam kegiatan Bontang Menulis dan Gebyar 5 Karya Buku. Semoga semangat ananda Nailah hari ini terus mengalir menuju muara karya yang terus menggelorakan lautan ide dan pemikiran.

Selamat untukmu, Nak! Teruslah berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Desember 2012 in Alam Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: