RSS

Mengenang Satu Hari Ketika Darah Tumpah ke Bumi

29 Apr
Di ruang Perpustakaan Daerah Kota Bontang

Di ruang Perpustakaan Daerah Kota Bontang

Tulisan ini kesannya sedikit agak dipaksakan karena mengkhususkan penulisannya pada satu waktu tertentu. Waktu yang (mungkin) bagi sebagian besar orang adalah suatu masa terpenting dalam hidupnya. Dengan sedikit mengikuti trend, aku pun sudah terjebak pada pengistimewaan hari itu yang tepatnya akan berulang tanggal dan bulannya sekitar satu jam yang akan datang. Tulisan ini kemungkinan akan selesai setelah masuk waktunya tanggal 29 April 2014 sesaat lagi. Sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya dengan mengambil momen yang sama, pernah kusebutkan bahwa sejak kecil aku tidak pernah diperkenalkan dengan istilah ulang tahun, apalagi merayakannya. Aku hanya tahu tanggal kelahirannku ketika itu tanpa berpikir tentangnya selain hanya salah satu identitas diri. Hingga aku menyaksikan betapa hampir setiap orang begitu menghistimewakan hari kelahirannya dengan perayaan khusus, aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama. Aku hanya ingin agar tidak melupakan asal mula kejadianku sebagai manusia yang pernah lahir dari rahim seorang ibu yang bagiku adalah pahlawan hidupku yang paling istimewa. Kutuluskan doa baginya semoga darahnya yang tumpah ke bumi menyertai kelahiranku bernilai sebagaimana tumpahnya darah syuhada. Bersamanya aku memiliki seorang ayah yang teguh, teduh dan penyayang. Membayang wajah keduanya selalu membuat mataku berkaca-kaca. Mungkin hati ini sudah mengeras karena pekatnya dosa-dosa yang menutupi sehingga kini aku tak bisa lagi menikmati syahdunya linangan air mata, padahal sungguh aku ingin merasakan kehadiran mereka begitu dekat menyapaku dan menyambuatnya manja bagai kanak-kanak yang tak akan menyembunyikan keceriaannya.

Telah panjang masa yang aku lalui dalam hidup yang konon sangat singkat ini. Tetapi tidak ada hal istimewa dan penting yang membuatku merasa berarti dalam hidupku, keluargaku, lingkunganku apalagi yang lebih dari itu. Gejolak emosiku masih terlalu disibukkan oleh ratapan pada kekurangan diriku yang tak mampu aku benahi. Aku bahkan kadang berpikir, “Mungkinkah Tuhan telah salah menciptakan aku karena aku merasa tertolak oleh kehidupan ini.” Aku masih sering merasa bahwa keadaan sekelilingku tidak akan dapat menerimaku, tetapi hanya bertahan untuk tidak terang-terangan mengusirku. Aku ingin bercerita, tetapi hanya bisa berkata kepada diri sendiri. Aku merasa tidak akan ada yang mampu memahamiku sebagaimana aku merasai diriku sendiri. Aku benci bertanya tentang diriku karena selalu curiga bahwa jawaban yang akan aku peroleh hanya akan membenamkan rasa sakit semakin dalam. Di suatu kesempatan, pujian aku dapatkan dari sedikit kemampuan yang aku bisa, tetapi hanya sesaat menyemangatiku untuk merasa sedikit berarti karena setelahnya aku kembali menatap hampa hidup ini tanpa arah yang harus kutuju. Aku kadang begitu bersemangat menceritakan ‘kehebatan-kehebatan’ yang dapat aku capai, tetapi di dasar hati aku merasa semakin memperhinakan diri sendiri di bawah lapisan-lapisan kepalsuan. Curahan kata-kata ini menunjukkan betapa cengengnya aku, tetapi aku hendak memastikan bahwa ini hanya akan terjadi di sini. Aku hanya ingin membebaskan diriku berkata-kata di sini tanpa terpenjara oleh kaidah-kaidah dan kepetutan-kepatutan etika sampai batas tidak menyerang diri dan kepribadian orang lain. Sampai saat ini, hanya tulisanlah menjadi alam kemerdekaanku tanpa harus malu bahkan dengan mempermalukan diri sindiri membeber aib dan kelemahan diri.

Di tengah ketakseimbangan hidup yang kujalani, aku pun memaksa diri untuk tidak mempedulikan rasa nyaman atau tidak nyaman dengan berbagai fluktuasi emosi yang mengoyak-ngoyak keyakinanku. Aku berupaya untuk tidak melepaskan diri dari rasa keterikatan pada dasar-dasar keyakinan walaupun kian hari semaikn longgar. Di waktu-waktu yang ditentukan, aku masih tegar melangkahkan kaki menuju Tuhanku meritualkan titah, berserah tiada daya. Aku belum bisa menantang-Nya sebagaimana kegilaan Fir’aun yang lebih percaya diri. Jika Tuhan telah menitipkan amanah yang sedikit unik bagiku di kehidupan ini, dengan tidak mengistimewakan hari ini, saat ini aku berharap dapat bertemu dengan nuraniku yang sungguh-sungguh mempercayakan raga dan jiwa ini sebagai mahligai kejayaannya.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2014 in Kontemplasi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: