RSS

Arsip Kategori: Uncategorized

Hari Ibuku

Parents

Ayah dan Ibu

Hey! Kau tahu ibuku? Aku beritahu ya. Meski kau tak berkenan atau tidak tertarik mendengarnya. Hari ini adalah harinya. Hari perjuangannya yang hanya dirasakan sendiri olehnya pedih dan perihnya. Kala itu, beliau merasakan sakit yang luar biasa tapi rasa sakitnya terabaikan olehnya sendiri karena harapannya jauuuh lebih daripada itu. Kebahagiaan yang tiada tara setelah menanti sekitar sembilan bulan terwujud di hari itu. Lelehan air mata rasa sakit menyatu dalam derasnya air mata bahagia. Sebagai aku anaknya yang lahir di hari itu pasti tak tahu apa-apa, apalagi merasakan sakit yang dirasakannya.

Hari-hari berikutnya bukanlah masa yang mudah baginya. Disamping tubuh yang masih lemah, iapun harus berbagi rasa dengan anak yang baru dilahirkannya. Ia harus memahami setiap bahasa tangis dan tawa dengan tangggapan yang tepat berdasar naluri seorang ibu. Malam-malamnya jauh dari pulasnya tidur dan indahnya mimpi. Karena mimpi baginya tidak lebih indah dari kenyataan yang sudah dirasakannya. Hari berganti pekan, berganti bulan, tahun dan perjalanan seterusnya penuh dengan harapan yang tak pernah putus. Doa-doa malamnya yang diperpanjang pun penuh linangan air mata. Linangan air mata harapan yang ia tumpahkan di hadapan Sang Pemberi Hidup agar kelak buah hatinya meraih keberkahan dan kebahagiaan hidup.

Inilah harinya. Hari ibuku ketika darahnya tumpah ke bumi karena hadirnya penghuni baru di atas hamparannya. Jika engkau tanya tentang pergantian tahun-tahun kelahiranku sejak itu, kuberitahu bahwa hari ulang tahun tidak pernah diperkenalkan padaku. Sehingga pergantian tahun itu hanya aku kenang sebagai hari tumpahnya darah ke bumi, hari perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang kini semakin merenta. Kini harinya semakin senja, tapi doa-doanya terus bergemuruh menembus langit. Bahkan kini, ketika aku jauh dari pandangan matanya, ia terus memantau dan mengiring setiap langkahku dengan doa dan pengharapan. Saat ini ia terus menanti. Menanti kami kembali ke hadapannya, ke pelukan dan belainnya bagai kami bayi dulu.

Ibu! Semoga engkau bahagia selalu. Selamat buatmu, Ibu! Atas kepahlawananmu mengurus dan membesarkan anak-anakmu. Maafkan kami tidak bisa memenuhi semua harapanmu. Maafkan kami selalu membuatmu menanggung rindu karena jarak berjauhan. Bersama ayah yang kini merenta bersamamu, kupanjatkan permohonan ampunan atas segala dosa, kiranya Allah menyayangi lebih dari kasih sayang yang kalian curahkan kepada kami sepanjang hayat. Insya Allah, kita akan berjumpa di Ramadhan tahun ini.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 April 2018 in Uncategorized