RSS

HATI-HATI MEMUTUS PERTEMANAN DI DUNIA MAYA

Ada dua hal yang saling beriringan dan terkadang saling mendahului. Dunia semakin sempit kata orang, di sisi lain kita menemui dunia yang teramat luas. Kekuatan teknologi menguasai dunia, mempersempitnya dan menjadikannya bagai boneka di tangan yang begitu mudah dimainkan. Kekuatan teknologi pula telah mengekspansi dunia yang sebelumnya tak terbayangkan oleh pikiran klasik kita. Ajaran suci memperkanalkan kita pada alam syahadah dan alam ghaib. Ghaib hakiki tidak menjadi persoalan dalam ranah logika kita karena ini domainnya iman. Ghaib nisbi adalah wilayah diskursif yang semakin hari semakin jelas dan menjadi bagian realita yang dapat dinalar. Perkenalan cyberspace atau dunia maya oleh   William Gibson yang awalnya diperkenalkan sebagai halusinasi adanya alam lain yang mempertemukan teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika) yang sekan-akan terdapat ruang dalam medium cyber. Penjelajahan ruang ini telah membawa ummat manusia pada suatu lingkungan dan pergaulan yang sungguh-sungguh berbeda tetapi menjadi kenyataan yang semakin sulit dihindari. Hampir setiap orang sudah terjebak –atau menjebakkan diri– ke dalam lorong-lorongnya yang semakin dalam dan penuh warna-warni. Image

Ketika ruang ini menjadi ajang pertemuan dan pergaulan di sisi yang lain dunia nyata kita, terbentuk pulalah kondisi psikologis yang sedikit agak berbeda. Jika dalam keseharian pergaulan kita saling menyapa dan menatap dengan pandangan mata, di sini kita saling menyapa dengan medium maya sebagai perantara yang mau tidak mau penyampaian pesan atau maksud tidak terwakili lebih sempurna. Kita tahu bahwa tidak semua maksud dapat terwakili oleh kata-kata; ekspresi wajah, artikulasi, intonasi dan gestikulasi sangat menentukan tersampaikannya maksud suatu pesan. Di dunia maya, di samping tulisan pada umumnya kita gunakan, kadang digunakan pula simbol-simbol atau tanda-tanda khusus yang tidak resmi untuk mewakilkan ekspresi. Tetapi simbol dan tanda tetaplah terbatas, dan justru dapat berakibat fatal jika penggunaannya tidak difahami secara umum atau penerimaan makna yang berbeda dari setiap orang. Ketika salah penerimaan makna ini terjadi, konfirmasi pun sulit dilakukan. Di sinilah kerumitan psikologi dunia maya karena pembacaan emosi sangat sulit dilakukan. Kata-kata yang terpampang di hadapan kita tidak menjamin perwakilan emosi dari pemiliknya di ruang maya.

Di sini saya tidak ingin membahas dampak buruk pergaulan di dunia maya sebagaimana banyak dibahas dan marak diperbincangkan. Saya justru ingin melihat hubungan baik yang terjalin melalui dunia maya yang dikenal sebagai jejaring sosial agar tetap segar dan menguatkan silaturrahim. Ketika kita memutuskan bergabung dalam suatu situs jejaring sosial, tentunya kita punya niat baik untuk memperluas dan memperkuat relasi. Namun pada suatu kesempatan kita merasa hubungan kita di dunia maya ini kurang sehat pada seorang relasi atau teman sehingga timbul niat ‘kurang’ baik kita untuk membatasi bahkan memutuskan hubungan. Misalnya di Facebook kita kenal fitur-fitur seperti unfriend, unsubscribe, report/block yang fungsinya membuat batas atau pemutusan hubungan. Untuk pembatasan diperlukan untuk menjaga hubungan dalam hal-hal atau keadaan tertentu, tetapi pemutusan hubungan pertemanan berarti mengakhiri suatu kebaikan yang kita anggap sudah tak perlu diteruskan. Seseorang yang memutus pertalian di dunia maya tentu punya alasan seperti halnya pula dalam keseharian dunia nyata kita berlaku hal yang sama. Tetapi kita juga semua paham bahwa memutus silaturrahim sama saja dengan memutus jalan ke surga sebagaimana dipesankan oleh manusia mulia Muhammad SAW untuk selalu menjaga silaturrahim. Jika kita beranggapan bahwa jejaring sosial di dunia maya hanyalah permainan, dan memutus hubungan di dalamnya juga bagian dari permainan, mungkin kita harus lebih dalam mengkaji psikologi dunia maya yang telah menjadi realita kehidupan. Realitas dunia maya tidak dapat lagi dianggap sebagai sekedar permainan atau hiburan pengisi waktu senggang, sehingga hubungan yang terjalin di dalamnya juga harus tetap terjaga dan tidak menjauhkan kita dari realitas surgawi yang dijanjikan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Juni 2012 in Sekitar Kita

 

SOK PUISI

Saya tengah berjuang menulis puisi. Entah mengapa tiba-tiba terpikir juga merangkai kata-kata  untuk mendeskripsikan rasa yang entah indah atau lagi galau. Kata orang, puisi itu luapan perasaan atau ungkapan hati. Mungkin karena dalam kebiasaan kita lebih sering menyatakan sesuatu bukan dari hati sehingga orang merasa perlu berpuisi untuk memastikan hatinya masih ada dan bisa berkata. Tetapi setelah menemukan tulisan Beda Pusi dan Sok Puisi, nyali saya jadi ciut. Menurutnya, sok puisi memiliki ciri berikut :

  • Menggunakan kata atau kalimat berbunga-bunga
  • Menggunakan kata-kata dan kalimat-kalimat yang sulit dipahami
  • Tata bahasanya sering keliru
  • Istilah yang digunakan kadang keliru
  • Tiap kata dan kalimat kurang atau tidak ada arti atau maknanya
  • Tiap kata dan kalimat terkadang menyimpang dari judul.
  • ATidak ada pesan yang disampaikan

Atas hal-hal di tersebut, saya dapat berkata apa. Bukan keahlian saya untuk menilainya. Jika memang puisi hanya milik orang-orang yang ahli dalam merangkai kata yang teratur dan bermakna, maka bagian orang seperti saya hanyalah meratapi ketidakmampuan dan mencoba meraba-raba ke dasar hati (kalo memang ada dasarnya) tentang kepantasan apa di dalamnya yang layak diungkapkan tanpa perlu berpuisi –atau bersok puisi.

Saya kadang mengagumi kata-kata yang menurut saya terasa indah tanpa berpikir apa maknanya. Heran juga dari mana unsur keindahannya jika maknanya tidak jelas. Bagi saya, cukuplah keindahan sudah bermakna tanpa mempersoalkan makna literalnya.  Tetapi memang juga sering tersentuh dengan ungkapan sederhana dengan maksud yang terang karena penuturannya laksana memasang cermin di hadapan tanpa mengajak kita mereka-reka dan mengkhayal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2012 in Sok Puisi

 

Tag: , , , , , , , ,

BERTINDAK TEPAT DI SAAT YANG ‘TIDAK TEPAT’

Bisa jadi ini adalah pikiran konyol dari seorang yang tidak punya rencana dan target yang jelas. Tetapi tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi teori manajemen kontroversial yang menguras pemikiran para ahli untuk menguraikan titik-titik kekonyolannya tetapi kemudian berbalik memujinya karena menemukan sesuatu yang dahsyat dan luar biasa. Saya tidak dapat memastikan kapan ide ‘gila’ ini muncul dalam benak saya, tetapi saya ingin mengungkapkannya di sini sebelum semuanya pudar atau saya menganggapnya tidak ada sama sekali. Bagi saya ini penting karena tidak memiliki ilmu sama sekali tentang manajemen, malah mencoba mengacau di dalamnya dengan berpikir sesuatu yang ngawur. Penting karena memang tidak memiliki sesuatu yang lebih dari hanya sekedar berpikir aneh tanpa pertanggungjawaban rasional. Dan apalah artinya pikiran nagawur ini karena toh  tidak akan berpengaruh secara sosial maupun secara pribadi pada kewarasan saya –yang memang agak meragukan. Saya bukanlah orang sehebat Fulton J. Sheen yang mengatakan :

“Kesabaran adalah kekuatan. Kesabaran bukanlah tidak adanya tindakan; melainkan adalah ‘waktu’ menunggu pada waktu yang tepat untuk bertindak, untuk prinsip-prinsip yang tepat  dan dengan cara yang benar. “

Tetapi saya ingin meramu pemikiran ngawur ini sebatas kewajaran logika saya agar dapat diterima, setidaknya oleh pikiran saya sendiri. Jika Sheen mengatakan untuk menunggu saat yang tepat untuk bertindak, dan saat menunggu itu bukanlah saat yang tepat, maka saya berharap lebih. Saya percaya bahwa ketika Sheen menyatakan hal tersebut, maka sebelumnya dia telah menjadikan prinsip itu sebagai bagian dalam hidup dan tindakannya. Tetapi saya hanyalah seorang pemimpi, maka sudah pasti apa yang saya nyatakan di sini belum pernah saya buktikan. Tetapi akan menjadi istimewa jika pada saatnya ada orang yang bahkan sudah mendahului atau dapat membuktikannya tanpa sebelumnya menyatakan dengan teori yang hanya sebatas angan.

Waktu yang tepat untuk suatu tindakan sangat subyektif. Subyektif karena setiap orang boleh jadi mempunyai perhitungan yang berbeda berdasarkan kepekaan mengidentifikasi variabel-variabel dan kekhususan cara pengambilan tindakan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2012 in Kontemplasi

 

Tag: , , ,

KAPAN LAGI AKU BISA MENULIS

Saya kurang mengerti juga makna pertanyaan tersebut dalam judul di atas. Jika tidak salah dalam bahasa ada yang disebut dengan pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Apakah judul tersebut termasuk dalam kategori ini, yang jelas tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan tersebut. Pertanyaan senada dalam keseharian kita terasa sudah lumrah dan tidak perlu diperdebatkan bagaimana menanggapinya, kecuali bagi orang-orang yang resek. 

Aktivitas menulis sudah kita jalani sejak awal kita mengenal sekolah. Jika kita punya catatan tentang jumlah huruf, kata atau kalimat yang pernah kita tulis, mungkin kita tidak menyangka bahwa mungkin sudah berpuluh-puluh kilometer kita menarik pena dan menggoreskan tinta serta jutaan kata dan kalimat pernah kita tulis. Dan jika kita cukup akrab dengan tuts mesin ketik atau keyboard komputer, entah sudah berapa ribu atau juta kali kita memencet huruf A atau yang lainnya. Tetapi menekuni sebuah aktivitas secara serius menulis dan mendokumentasikannya menggunakan media atau alat tertentu mungkin hanya orang-orang tertentu yang sempat melakukannya.

Saya termasuk orang yang tidak fokus dalam menulis, karena ide itu hanya kadang-kadang muncul dan tidak punya cukup wawasan keilmuan dan teknik penulisan yang baik. Kehadiran blog ini awalnya hanyalah dari kebiasaan menjelajah dunia maya sehingga terjebak dalam registrasi akun di wordpress.com. Sebelumnya juga pernah membuat akun di blogger.com dan mencoba bercerita tak bermutu di sana. Anehnya lagi, saya ngeblog di sana tanpa sengaja karena mengutak-atik foto dari ponsel yang dapat langsung diupload ke blog. Bingung entah terkirim ke mana setelah foto tersebut terupload, tiba-tiba ada pesan masuk yang mengirimkan link yang harus dibuka untuk mengaktivasi blog dan jadilah blog itu seperti sekarang.

Saya cukup terkagum-kagum dengan tulisan orang yang sarat dengan kajian ilmu yang dalam dan wawasan yang luas. Saya sering berpikir, jika menulis harus menghasilkan yang seperti itu, mungkin selamanya saya hanya jadi penonton di antara penulis yang hebat-hebat. Saat ini pun saya masih tetap setia menjadi penonton meskipun punya keinginan besar tetapi tak jua mampu mewujudkannya. Untuk mengisi masa-masa jadi penonton (mungkin juga selamanya), sesekali saya mengisi blog ini dengan kata-kata yang masih saya ingat dan tahu artinya dan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat seperti dulu ketika masih sekolah diminta oleh bapak/ibu guru menyusun kalimat. Saya masih ingat ketika dulu masih di SD pada pelajaran Bahasa Indonesia, ada dua jenis buku yang digunakan. Satu buku bacaan yang khusus untuk melatih membaca dan menelaah bacaan, yang satunya lagi adalah buku pelajaran untuk latihan menyusun kata menjadi kalimat. Biasanya perintah membuat kalimat diinstruksikan dengan membuatnya seperti contoh yang telah diberikan. Mungkin pola-pola seperti itulah yang masih saya anut hingga sekarang. Saya suka meniru-niru gaya tulisan orang lain karena tidak punya gaya khas sendiri.

Bagi saya, menulis di blog ini kadang menggunakan waktu yang tidak tepat. Pada saat kesibukan yang seharusnya saya kerjakan lagi menumpuk, saya kadang malah mengutak-atik blog ini meskipun hanya mengubah tampilannya atau mengedit tulisan yang sudah terposting di dalamnya. Saya lebih sering mengabaikan seberapa besar manfaat tulisan saya dan menulis suka-suka tanpa arah dan tujuan pasti. Posting  dalam blog ini belum seberapa, dan saya bersuaha mempertahankan keaslian tulisan tanpa copy-paste. Jika pada kesempatan tertentu saya mengutip tulisan orang lain, saya tetap berusaha mencantumkan sumber atau linknya. Karena saya bukan seorang penulis, maka saya tidak perlu merasa terbebani dengan kelas-kelas atau  level seorang penulis. Saya tidak masuk dalam kelas mana pun, tidak terendah apalagi tertinggi. Senang juga sih melihat penulis-penulis berkelas seperti mereka yang sudah mahir, tapi sekali lagi saya tidak akan pernah menulis di blog ini jika menanti giliran seperti mereka. Saya kadang berkecil hati ketika membaca tulisan orang yang dikritik habis-habisan padahal menurut saya tulisan itu sangat luar biasa. Tapi saya tidak khawatir tulisan dalam blog ini akan dikritik, karena tidak ada yang pantas dikritik. Tulisan yang pantas dikritik hanyalah yang mempunyai pengaruh dalam khazanah pemikiran dan memiliki kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial. Untuk tulisan kacangan seperti ini tidak akan mengkhawatirkan membawa pengaruh cara berpikir apalagi daya penggerak sosial.

Saya juga bukan termasuk orang yang menikmati saat-saat menulis. Terkadang menulis menjadi siksaan berat bagi saya jika berusaha menfokuskan pada satu titik pembahasan untuk mengerucutkan pandangan pada suatu simpulan yang bermakna. Karena itulah tulisan-tulisan dalam blog ini hanyalah berlagu seperti catatan harian dari jejak selintas pikir dan rasa yang tak berarah. Tetapi saya berusaha tetap menulis, karena apa lagi dan kapan lagi saya bisa menulis jika tidak MENGGUNAKAN SAAT YANG TIDAK TEPAT.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Alam Pendidikan, Kontemplasi

 

MENYONTEKLAH SEBAGAIMANA GURU DULU MENYONTEK…!

Image

Saya singgung sedikit tentang kata ‘contek’ atau ‘sontek’. Saya coba-coba membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata kata contek tidak ada penjelasannya dan dirujuk ke kata sontek yang salah satu artinya adalah mengutip sebagaimana aslinya. Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut tentang makna sontek itu. Yang pasti kata yang baku berdasarkan KBBI adalah sontek dan bukan contek yang lebih sering kita dengar atau baca dalam berita-berita atau pembicaraan resmi. Untuk penulisan selanjutnya akan disesuaikan dan akan berusaha mempertahankan bentuk bakunya.

Dua tahun terakhir sepertinya berita tentang menyontek tengah hangat-hangatnya ketika kabar tentang Contek Massal di SD Gadel II Surabaya tahun 2011 lalu terangkat dalam headline pemberitaan media. Saya merasa tergelitik ketika bermunculan komentar-komentar yang menyatakan rasa simpati dan dukungannya kepada Ibu Siami yang dianggap berani melawan arus ketidakjujuran di dunia pendidikan. Memang nurani kita belum seutuhnya mati karena betapapun pengalaman kita terdahulu tidak jauh berbeda dengan realita saat ini, tetapi kita masih angkat jempol dengan kejujuran seseorang dan keberaniannya.

Saya berusaha menepiskan rasa pesimis ketika berharap kebiasaan menyontek itu hendak dikubur dalam sejarah masa lalu pendidikan kita. Guru yang menjadi tumpuan harapan kita untuk menanamkan kejujuran kepada anak didiknya mungkin terbelit perasaan bersalah ketika punya pengalaman tidak jujur yang sama di masa lalu. Sehingga kita akan menyaksikan ada guru atau juga dosen yang acuh tak acuh dengan kebiasaan menyontek siswa atau mahasiswanya. Menegur sekedarnya saja sebagai tugas pengawas dalam ujian, tetapi tidak sungguh-sungguh melarang. Yang sungguh disayangkan ketika guru memberikan penialain pada hasil pekerjaan anak didiknya tidak akan mau tahu dengan cara bagaimana sang murid mengerjakannya. Apakah dikerjakan dengan cara yang jujur atau tidak. Memang tidak ada alat ukur yang baku untuk memastikan hasil ujian siswa dikerjakan secara fair atau tidak, sehingga pekerjaan ‘menghukum’ siswa dengan nilai yang buruk bukanlah tindakan bijak atas ‘dugaan’ kecurangan. Karena justru dengan cara seperti inilah, guru bahkan dapat bertindak tidak adil ketika tidak ada informasi lengkap dan akurat yang memastikan semua tindak-tanduk siswa selama mengerjakan soal ujian.

Tindakan pembiaran guru atas ketidakjujuran siswa cukup dapat dimaklumi mengingat pengalaman yang sama (bisa jadi) masih menjadi bayang-bayang sikap guru terhadap anak didiknya. Di sinilah dilemanya. Tapi seorang pendidik bukanlah milik masa lalunya, tetapi bagi masa depan pendidikan dan anak didiknya. Ketika seseorang telah memilih hidup sebagai pendidik di jalur formal, maka ia harus lahir sebagai manusia baru yang berkomitmen pada kebaikan dan perbaikan masyarakat. Dunia pendidikan bukanlah tempat berspekulasi yang menggantungkan keberhasilan pada nasib tanpa kesungguhan untuk berjuang. Pendidiklah yang terdahulu harus menunjukkan suksesnya sebelum berharap lebih kepada anak didik yang dibimbingnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Mei 2012 in Alam Pendidikan

 

MUSLIMAH YANG MODIS NAN SEKSI (bagian 2)

ImageGiliran bicara modis dan seksi, tampaknya terlalu terburu-buru jika harus mengakhiri pada tulisan sebelumnya. Memang benar sih, kata akhi Muhajirin kalau tulisan itu tidak tuntas. Dan kehidiran tulisan ini pun tidak akan juga dapat menuntaskannya. Di sini pun saya tidak akan membahasnya dari sudut pandang syariah yang bukan keahlian saya. Emang bidang keahlian saya apa sih? hehe…. Mua dibilang usilitas (ga tau ini bahasa apa, maksudnya ke-usil-an gitu), ya terserah deh. Yang penting saya menulis dengan senang dan plong menumpahkan muatan otak saya yang terlalu kerdil untuk menampung ide-idenya sendiri.

Pilihan berbusana muslimah memang sungguh hebat. Saya, andaikan seorang wanita belum tentu mau berbusana muslimah. Mana ribet, butuh banyak kain dan yang pastinya mahal lagi. Tapi jangan salah, lingerie yang hanya menutup bagian tertentu dari tubuh bisa lebih mahal dari busana muslimah lengkap bahkan dengan cadar dan jilbab lebar menjuntai sekalipun. Saya cukup yakin bahwa seorang wanita muslim yang tergerak berbusana muslimah memiliki pertimbangan dan alasan. Jika sebelumnya menggunakan pakaian terbuka kemudian beralih ke pakaian muslimah, pasti telah melewati konflik bathin sebelum menjatuhkan pilihannya. Tidak jarang kita dengar seorang wanita mengatakan belum siap menggunakan busana muslimah. Macam-macamlah alasannya, dan salah satunya yang pernah terlintas di sekitar kuping saya ada yang mengatakan “yang penting hati kita bersih, masalah pakaian hanya di luarnya saja dan tidak menjamin hati bersih”. Bukan kapasitas saya untuk menghakimi pendapat seperti ini, tapi saya tetap meragukan kebersihan hati yang dimaksud ketika menolak kebaikan. Saya juga setuju bahwa pakaian tidak menjamin kepribadian seperti ketidaksetujuan saya pada sosok manusia yang menjadi jaminan lebih mulia dari binatang.

Jika pilihan berbusana ‘muslimah seksi’ atas dasar keyakinan, mungkin saya harus menelusuri kembali dasar-dasar keyakinan saya. Bisa jadi saya keliru memahami dengan pikiran kerdil saya sehingga melihatnya sebagai yang patut di-usili. Maaf beribu maaf nih saudariku muslimah yang seksi lahir-batin. Bukan hendak melecehkan. Saya tidak cukup lancang memprotes pakaian dan merendahkan martabat ukhti hanya karena kejahiliyahan pikiran saya. Saya hanya ingin berbagi kegelisahan sebagai muslim laki-laki ketika memandang muslimah berbusana seksi. Entahlah apakah itu sungguh kegelisahan atau justru turut menikamati. Sebelumnya saya juga sudah mengatakan bahwa tidak akan menyarankan membuka busana seksi itu dan menggantinya dengan yang lebih terbuka.

Untuk tidak terjerumus dalam perbincangan yang memancing sewotisasi (ke-sewot-an, maksudnya), saya mencoba memandang busana muslimah yang modis plus seksi sebagai kategori unik. Yaahh, unik….! Betapa tidak, untuk menampilkan keseksian masih berusaha menggunakan kain berlebih. Padahal akan lebih praktis jika menggunakan pakaian minim agar aura seksinya (bukan Aura Kasih) lebih nampak. Tapi ini pilihan, jadi saya tidak ingin sembarangan menerka alasannya. Tapi tulisan ini memang hanya tulisan usil, jadi saya bebas dong mereka-reka arah tulisan saya tanpa terikat dengan dengan alasan di balik busana seksi -yang berlabel muslimah- sesungguhnya. Tapi memang betul-betul unik, dan inilah mungkin nilai lebihnya. Karena dari sudut pandang mata berbeda, busana muslimah yang seksi boleh jadi tampak lebih seksi daripada busana minim yang lebih dari setengah telanjang. Dan jika maksudnya menampilkan bodi seksi di balik busana muslimah ini, mungkin saya hanya ingin menitip pesan kepada para desainer untuk tidak lagi memberikan kategori ‘busana muslimah’ yang seperti ini. Peganglah kebebasan berekspresi Anda, dan tidak perlu mengaitkan karyanya dengan keyakinan tertentu. Untuk yang satu ini, saya menyampaikan rasa ketersinggungan saya yang sudah menetap pada keyakinan yang Anda catut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2012 in Sekitar Kita

 

MUSLIMAH YANG MODIS NAN SEKSI

ImageIni bukanlah sebuah kajian tentang syariat atau fiqih, hanya sebuah catatan dari selintas pikiran yang teramat sederhana dan bahkan mungkin sangat dangkal untuk disebut sebagai renungan. Saya sebenarnya cukup terkesan dengan kreatifitas dalam segala bentuknya, termasuk dalam desain fashion yang semakin hari menampilkan berbagai gaya yang mengundang decak kagum. Busana muslimah (juga muslim) termasuk dalam salah satu sasaran para desainer karena memiliki ciri khas dan tentunya target pasar yang luas. Tak tangung-tanggung mulai dari busana harian sampai perlengkapan ibadah untuk shalat bahkan haji dan umrah turut menjadi targetnya. Andaikan pakaian ihram bisa dimodifikasi, mungkin hari ini kita sulit menjumpai lagi pakaian ihram seperti dulu dipakai masa awal disyariatkannya ibadah haji.

Untuk keperluan ibadah ritual, andaikan dimodifikasi seperti pakaian shalat, tentunya belum ada yang berani membuatnya di luar standar. Tetapi untuk busana harian, kita menyaksikan berbagai model mulai dari yang paling ekstrim sampai yang paling vulgar. Yang saya maksudkan ekstrim di sini bukanlah bermakna negatif, dan saya tidak hendak membincangkannya di sini. Seperti pada judul tulisan yang terlanjur terpasang di atas, gosip ini hanya seputar pakaian muslimah yang setiap orang pun dapat menilai jika itu termasuk kategori seksi. Kreatifitas manusia memang sulit diukur batasnya, karenanya kita tidak merasa heran jika setiap saat menyaksikan hal-hal baru yang terkadang di luar dugaan kita yang lebih suka memanjakan pikiran dengan kekaguman yang tidak produktif.

Kita patut bangga bahwa saat ini banyak muslimah yang beralih ke model pakaian yang mereka sebut syar’i. Syar’i tetapi tetap modis dan tidak ketinggalan zaman. Secara umum kita mengagumi penampilan yang rapi dan bersih. Tetapi kekaguman kita kadang tertipu kala menyaksikan penampilan muslimah dengan busana yang menampilkan secara nyata lekuk-lekuk tubuhnya yang aduhai yang ditunjang dengan bobot tubuh yang proporsional. Benarkah kita mengagumi penampilan rapinya atau bodinya. 

Mungkin kita berpikir, untuk apa usil dengan pakaian yang sudah cukup terhormat ini dibanding dengan penampilan sebagian wanita yang lebih dari setengah telanjang? Bahkan sehari-harinya kita sudah cukup nyaman berinteraksi dengan wanita-wanita berbusana seksi dan menggoda dengan aroma wewangian yang memanjakan indra penciuman kita. Pastinya saya tidak bermaksud mengajak sebagian wanita itu untuk mengganti saja pakaiannya dengan lebih terbuka.

Kita pasti sepakat bahwa pakaian muslimah itu adalah suatu ciri khas yang berarti pembeda dari busana lainnya. Okey…! Dari segi ukuran sudah menjadi pembeda, tetapi substansi perbedaan bersentuhan pada manfaat dan berfungsinya pakaian itu. Pakain muslim dan muslimah adalah pakaian khusus yang memiliki fungsi dan manfaat khusus. Dan secara khusus kajian ini akan menyentuh area syariat dan saya berhenti cukup sampai di sini.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Mei 2012 in Sekitar Kita